• Home
  • Profil
  • Others
    • Review
    • Culture
    • Story
  • Wildlife
  • Travel
facebook twitter instagram Email

Part Time Veterinarian

Amir Hasan merupakan putra Sunan Kudus yang diusir karena melalaikan tugas untuk memimpin pesantren ketika ayahnya ditugaskan mengantarkan jemaah haji ke Mekkah dan Madinah. Kemudian Amir Hasan berguru pada Sunan Muria. Setelah ilmu agamanya dirasa cukup, Amir Hasan dikirim oleh Sunan Kudus dan Sunan Muria untuk menyebarkan agama islam ke daerah baru. Amir Hasan dan dua orang santri berangkat ke utara laut jawa dan setelah tiba di kawasan baru beliau meminta kedua santri tersebut menyampaikan kabar tersebut kepada Sunan Kudus dan Sunan Muria. Sunan Kudus dan Sunan Muria bahagia menerima kabar tersebut dan mengirimkan hadiah berupa mustaka (pucuk mesjid), pecel lele, pepes siput, satu buah nangka besar, dan seunting padi. Namun pecel lele dan pepesan siput dibuang oleh Amir Hasan ke kali kecil di dekatnya sambil berkata "Siapa tahu lele dan siput tersebut akan menjadi sumber kehidupan anak cucu kita di tanah yang baru". Saat ini daerah tersebut diberi nama Legon Lele dan terdapat lele tanpa patil yang hidup di air payau. Konon katanya, lele tanpa patil di Karimun Jawa ada karena Amir Hasan membuang pecel lele yang sudah di masak dan dibuang patilnya ke dalam kali.
Sangat disayangkan, saya tidak sempat mencicipi masakan lele yang konon merupakan biakan dari pecel lele hadiah untuk Amir Hasan dari dua sunan terbesar di pulau jawa. Namun, saya termasuk orang yang beruntung karena berkunjung ke kepulauan Karimun Jawa saat dilaksanakan Festival Jajanan dan Makanan Pesisir. Karimun jawa merupakan kepulauan di utara pulau jawa yang namanya bermakna samar-samar terlihat dari pulau jawa. Selain itu, karimun jawa juga memiliki makna yang mulia di laut jawa. Tak hanya tujuan mulia Amir Hasan untuk menyebarkan agama islam di daerah baru tersebut, namun Karimun Jawa juga memiliki kemuliaan untuk kekayaan biota lautnya.
Share
Tweet
Pin
Share
8 Comments
RA, dewa matahari dengan kepala elang, dewa dari seluruh dewa dari peradaban Mesir Kuno. Ra bertugas memimpin sebuah perahu yang ditempati oleh banyak dewa melintasi langit untuk menyinari bumi. Setibanya di ufuk barat, Ra melintasi akhirat  membawa cahaya untuk jiwa-jiwa yang telah mati kemudian kembali ke timur dan menyinari bumi di siang hari. Perjalanan yang dilalui oleh Ra penuh bahaya dari Apep, dewa ular yang jahat. Suatu waktu Apep mampu menghentikan perjalanan Ra dan mereka bertarung. Dalam pertarungan inilah bumi menjadi gelap gulita pada siang hari. Ada banyak mahluk yang mengawasi perjalanan Ra dan Apep. Seekor Naga dari daratan Cina, Rahu dan Kelu dari India, dan Batara Kala dari Tanah Jawa. Mereka hanyalah sosok yang membayangi perjalanan Ra  dan Apep, kemudian menelan mereka ketika sedang lenggah di tengah pertarungan.

Bara Kala sudah menunggu selama 21 tahun sejak 24 Oktober 1995, menantikan pertarungan antara Ra dan Apep. Tahun ini Ra melewati langit nusantara dan di suatu titik Apep mampu menghalangi perjalanan Ra, ketika itu Batara Kala muncul dan menelan mereka. Namun dari tanah jawa kondisi ini terlihat seperti Batara Kala menelan kepala dewi Ratih.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Minggu lalu saya mendapat kesempatan bergabung bersama teman-teman blogger dan tim dari ICITY Indosat Ooredoo (read: u-ri-du) untuk membahas digital komik. Ngomong-ngomong soal komik, saat kecil saya suka membaca komik. Komik Jepang seperti Doraemon, Cherry, Detektif Conan, dan Sinchan merupakan  sahabat setia anak gaul 90-an seperti saya. Komik Jepang yang paling saya suka adalah serial Wildlife yang mengangkat cerita tentang seorang dokter hewan. Saya ingin seperti Thesso Iwashiro yang memiliki jiwa besar dan keikhlasan hati membantu hewan terutama satwa liar. Komik karya penulis Indonesia yang saya ingat terbit diakhir 90-an adalah komik Petruk Gareng karya Tatang S. Komik karya Tatang S, ini mampu mengenalkan tokoh perwayangan (Petruk , Gareng, Semar, dkk) dalam kehidupan sehari-hari dan memberi banyak pesan moral melalui kisah komedi dan terkadang horor.
Digital komik yang dibahas adalah Cronicle Of Calonarang Baladewa yang diterbitkan dalam dua versi yaitu versi dewasa dan versi anak-anak dengan multimedia yang lebih ceria khas anak-anak. Pertama kali melihat cuplikan komik yang terlintas dalam pikiran saya, He's Samsons. Hei... siapa yang tak kenal Samson laki-laki kuat yang mampu mengalahkan seekor singa namun tunduk pada pesona si cantik Delilah. Tapi ternyata saya salah....
Share
Tweet
Pin
Share
12 Comments


Jika ratusan tahun yang lalu tidak terjadi ekspedisi pencarian rempah-rempah oleh bangsa Eropa sehingga menimbulkan kolonialisme di Nusantara. Apakah akan lahir sebuah negeri bernama Indonesia?
Rempah-rempah menjadi lebih berharga karena asal-usulnya yang tidak jelas dan telah memberikan nilai kekayaan bagi bangsa-bangsa di timur tengah. Pada abad ke-16 rempah rempah menjadi simbol kekayaan dan status sosial. Kalangan bangsawan Eropa dianggaplebih sukses ketika mengadakan sebuah pesta dengan rempah-rempah yang berlimpah dan rempah-rempah menjadi aset kekayaan yang disimpan setara dengan permata. Namun, kekaisaran Ottoman menutup jalur perdangan rempah-rempah dan menaikkan harga sehingga terjadi kelangkaan rempah-rempah di daratan Eropa.
Kelangkaan rempah-rempah mengundang minat bangsa Eropa untuk menemukan sendiri wilayah tempat rempah-rempah berasal. Penjelajahan Samudera ini dimulai ketika Chrispher Colombus memberikan pernyataan berani "bahwa Hindia adalah wilayah terkaya didunia dan saya bicara terkait rempah-rempah". Colombus memang bukan orang yang menemukan tempat dimana asal rempah-rempah, namun perjalanan kembali ke Eropa dengan tumbuhan cabai dan orang Indian membangkitkan minat para investor untuk membiayai perjalanan menemukan daerah asal rempah-rempah.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Anak Daro (Foto by: Febri Aziz) sumber foto: www.djisamsoe.com



 “Perempuan dan keindahan, perempuan dalam keindahan adat istiadat dan budaya tradisional”
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments
Keinginan untuk datang berkunjung ke rumah Bapak Iskandar Zakaria sudah ada sejak pertama kali mendengar nama beliau. Beliau adalah seorang Budayawan dari Tanah Sakti dengan ribuan koleksi benda antik dan bersejarah, ahli dalam berbagai tari tradisional Kerinci, dan memiliki kemampuan lebih dalam menciptakan berbagai tari kreasi. Pada dasarnya, Siapa sih orang Kerinci (yang mencintai tradisi dan budaya) tidak mengenal beliau? Satu tahun yang lalu, saya dan teman-teman batal menemui beliau karena liburan yang sangat singkat. Dan saya tidak beruntung (lagi) karena tidak bisa bertemu beliau dalam salah satu pamerannya di Jakarta pada akhir Mei 2012.

Iskandar Zakaria adalah budayawan yang berasal dari Kerinci. Beliau terkenal dengan Al-Quran sepanjang 2 Km yang sempat di pamerkan di sepanjanh perjalanan Bundaran HI- Monas pada tahun 2008. Atas usaha beliau selama 8 tahun untuk membatik ayat-ayat suci Al-Quran, beliau mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun yang sama. Saat ini Al-Quran tersebut di pamerkan di Museum BKMT di Daerah Bekasi (Secara resmi museum ini akan masuk list tempat yang wajib dikunjunggi). Selain itu, Beliau memiliki banyak koleksi benda-benda antik yang memiliki arti penting dalam sejarah masyarakat Kerinci (khususnya).
Share
Tweet
Pin
Share
6 Comments

Hidup di wilayah kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, dan terkenal dengan masyarakat Baduy. Adapun sebutan suku Baduy berasal dari kata Badui, yakni sebutan dari golongan/ kaum Islam yang tidak mau mengikuti dan taat kepada ajaran agama Islam, sedangkan di Saudi Arabia golongan yang disebut Badui merupakan golongan yang membangkang tidak mau tunduk dan sulit di atur sehingga dari sebutan Badui, selain itu kata Baduy mungkin berasal dari nama Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di utara wilayah tersebut. Masyarakat Baduy terbagi menjadi Baduy dalam dan Baduy luar, secara umum mereka memiliki persamaan dalam adat istiadat. Perbedaannya terletak pada masyarakat Baduy luar memberikan keringanan dalam pelaksanaan adat tersebut, misalnya masyarakat baduy luar diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor sedangkan masyarakat baduy dalam hanya boleh berjalan kaki.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

Hi, I am Feby!

Hi, I am Feby!
The Greatness of a nation can be judged by the way its animals are treated ~Mahatma Gandhi

Join This Site

Member Of

Member Of

Blog Archive

  • Januari 2023 (1)
  • April 2021 (5)
  • Maret 2021 (1)
  • Agustus 2020 (2)
  • April 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • April 2019 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (1)
  • September 2017 (1)
  • Maret 2017 (1)
  • November 2016 (1)
  • Oktober 2016 (3)
  • Juni 2016 (1)
  • Februari 2016 (3)
  • Agustus 2015 (2)
  • Juni 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • Januari 2015 (1)
  • Oktober 2014 (1)
  • Agustus 2014 (2)
  • Juni 2014 (1)
  • Mei 2014 (1)
  • April 2014 (2)
  • Maret 2014 (1)
  • Februari 2014 (9)
  • Januari 2014 (2)
  • Desember 2013 (3)
  • November 2013 (3)
  • Oktober 2013 (3)
  • September 2013 (8)
  • Agustus 2013 (5)
  • Juli 2013 (3)
  • Juni 2013 (1)
  • Mei 2013 (2)
  • April 2013 (1)
  • Maret 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Desember 2012 (1)
  • November 2012 (1)
  • Oktober 2012 (1)
  • September 2012 (3)
  • Agustus 2012 (1)
  • Juli 2012 (4)
  • Juni 2012 (11)
  • Mei 2012 (8)
  • April 2012 (8)
  • Maret 2012 (6)
  • Februari 2012 (2)
  • Desember 2011 (1)
  • November 2011 (27)

Created with by ThemeXpose