Selasa, 11 Februari 2014

Jurnal 89, Vampire Academy

Setelah penantian selama 4 tahun akhirnya hari ini datang. Sabtu malam, saya sukses nyeret kak Yayuk nemenin nonton Vampire Academy. Once upon the time, (8/2) ketika bangun tidur seperti biasa memantau kondisi timeline. Mengingat 7 Februari adalah hari launching Vampire Academy di Amerika Serikat dan Kanada, Saya mengkhususkan kegiatan sabtu pagi adalah kepo. Sebenarnya udah kepoin akun twitter, facebook, dan beberapa website sejak sabtu dini hari (mengingat perbedaan waktu Indonesia dan USA). Surprise-nya adalah dari akun twitter fans Vampire Academy Indonesia yang merujuk dari 21cineplex.com yang menyatakan bahwa Vampire Academy tayang HARI INI 8 Februari 2014 di Indonesia. Setelah semalaman uring-uringan dan ngiri dengan para fans dari USA dan Kanada yang bisa nonton di hari pertama penayangan, dan lebih iri lagi sama beberapa fans yang rela terbang ke USA untuk hadir di red carpet, dilanjutkan semaleman mengutuk 21cineplex.com yang tidak memberi informasi tanggal penayangan film ini yang sudah muncul di coming soon (Oke dan kalimat diatas hancur abis, bisa sesak nafas bacanya). Intinya adalah saya gak nyangka aja kalau Vampire Academy akan tayang 1 hari setelah penayangan di USA. Sumpah deh, 21cineplex.com keren abis. Saya sangat menyadari dibalik sebuah kebahagian harus ada pengorbanan. Pengorbanannya adalah penayangan pertama kali Vampire Academy terletak pada jam tayang MIDNIGHT.

Untuk sebuah film yang saya tunggu selama 4 tahun, pengorbanan apapun akan saya lakukan, apalagi cuma nonton midnight. Dan memang ada beberapa kendala yang harus dilewati untuk duduk manis di XXI dengan layar lebar yang menanyangkan Zoey Deutch, Danila Koslovsky, Lucy Fry, dkk...
  1. Ini adalah kesalahan saya. Setelah melihat website 21cineplex.com saya berpikir keras untuk bisa nonton Vampire Academy yang ditayangkan midnight dan di Jakarta. Berpikir berbagai alternatif tempat nongkrong 24 jam dan teman yang bisa diseret nonton tengah malam di Jakarta pula. Dan kesalahannya adalah saya lupa mengganti kota di website 21cineplex karena sebenarnya film ini juga ditayangkan di XXI Botani.
  2. Kejebak macet di jalan raya dramaga bahkan jarak kurang dari 10 meter aja ditempuh dalam waktu lebih 30 menit. Dan akhirnya saya dan kak Yayuk memutuskan jalan kaki dari jembatan di pertigaan hingga ke Laladon.
  3. Niat awal ke Botani adalah dinner jadi sengaja mengosongkan perut biar bisa makan sepuasnya di Botani. Ternyata dan ternyata semua tempat makan penuh di malam minggu dan beberapa resto malah kehabisan menu. Dan kami berujung keluar dari Botani dan nyebrang ke KFC 24 jam.
  4. Akhirnya, bisa duduk manis di studio 2 yang menayangkan Vampire Academy. But, you know listriknya mati di tengah film. Untungnya kondisi ini hanya berlangsung selama beberapa menit dan saya bisa nonton Vampire Academy dengan tenang.
 Sebuah cerita novel yang kemudian diangkat menjadi film tidak mungkin persis sama. Saya pernah dengar kalimat ini "Ada beberapa deskripsi novel yang terkadang kurang indah ketika divisualisasikan, begitu juga sebaliknya". Tapi, dari beberapa film asal novel yang saya tonton Vampire Academy termasuk yang tidak mengecewakan, KEREN!!
Karena kebiasaan saya cerita secara detail, untuk film ini saya tidak berani menuliskan reviewnya karena takut spoiler. Beberapa hal yang saya lihat membedakan film ini dengan novelnya adalah....
  • Kehadiran Strigoi. Seingat saya dan setelah membaca kembali novel Vampire Academy belum ada strigoi yang muncul. Tapi, saya rasa kemunculan strigoi di film ini memberi arti positif karena penonton harus tau tentang Vampire jenis ini, terutama bagi kalian yang belum membaca novelnya.
  • Sedikit kecewa dengan scene ketika Dimitri muncul pertama kali, sedikit banyak terlalu drama dan deskripsi Rechele di novel lebih greget dibandingkan visualisasi di film.
  • Rose adalah guardian yang hebat, tapi tidak sehebat yang digambarkan di film, saya lebih suka deskripsi penulis tentang masa belajar Rose dan Dimitri yang benar-benar dimulai dari 0.
  • Beberapa detail kecil seperti Christian yang memberi tahu hubungan Andre-Mia, dan surat-suratan antara Rose dan Lissa tentang Jesse yang mengalami perubahan tidak menjadi masalah besar.
  • Tapi, yang mengecewakan untuk saya adalah Rose yang terlalu terbuka tentang perasaannya pada Dimitri. Ada scene dimana Rose bilang menyukai Dimitri pada Natalie dan Lissa yang beberapa kali meledek Rose dan Dimitri. Entah kenapa saya lebih suka Rose yang tertutup agar moment ketika Lissa akhirnya tau tentang cinta Rose pada Dimitri lebih menegangkan.
  • Hubungan antara Rose dan Christian terlalu baik. saya lebih suka Rose dan Christian yang secara tidak langsung saling memusuhi tapi akan saling bekerja sama jika hal itu terkait Lissa.
  • Dan, hukuman tanpa sosialisasi yang diberikan Kirova tidak seketat yang terjadi di novel
  • Masih ada beberapa scene yang berbeda tapi sebaiknya saya tulis beberapa bulan lagi untuk menghindari spoiler. Tapi sepertinya saya tidak sabar menuliskan tentang scene terakhir Vampire Academy di film
"Dimana Rose menghampiri Dimitri dan menanyakan tentang kalung yang dimantrai oleh Viktor Daskov (termasuk kondisi yang berbeda dengan novel). Dan masih nyesek setiap mendengar jawaban Dimitri tentang hubungannya dengan Rose dikaitkan keselamatan Lissa, pada scene ini Rose tidak hanya diam karena Rose mengatakan pada Dimitri alasan kenapa mereka tidak bisa bersama malah memperdalam perasaannya pada Dimitri. Dan pada scene ini Rose meminta Dimitri untuk menciumnya dan Rose memanfaatkan kondisi ini untuk membanting Dimitri yang lengah. Rose merasa senang dan melompat gembira setelah bisa menjatuhkan Dimitri (yang memiliki reputasi tak terkalahkan bahkan sering disebut-sebut memiliki gerakan seperti dewa)."
Untuk pemeran hanya bisa bilang...
Zoey Deutch adalah Rosemerie Hathaway yang sempurna :)
Tapi saya kecewa dengan poster yang menempatkan Dimitri dibelakang Christian


0 komentar:

Posting Komentar