Rabu, 23 Mei 2012

Jurnal 17, Laparotomi


Laparotomi merupakan tindakan bedah untuk membuka ruang abdomen. Penyayatan bisa dilakukan secara medianus tepat di linea alba atau paramedianus dengan sayatan sejajar linea alba. Laparotomi biasa dilakukan untuk mengeluarkan cairan dari rongga abdomen pada aschites, penyumbatan atau adanya corpus alinea dalam usus, ataupun tindakan bedah terkait reproduksi.
Mahasiswa yang sedang menempuh studi kedokteran khususnya di kedokteran hewan pasti sangat menantikan kesempatan pertama untuk membedah. Mungkin arti dari seorang dokter bukan hanya ada diruang operasi dengan peralatan lengkap dan steril, stetoskop yang digantungkan di leher, ataupun scapel yang digunakan untuk operasi. Namun tak bisa disangkal bahwa semua calon dokter menantikan kesempatan untuk sayatan pertama dan terlihat seperti dokter sungguhan, dalam hal ini saya termasuk satu diantaranya.
H-1 sebelum praktikum pertama laparotomi, 80 % status account sosial teman-teman Geochelone terkait dengan kata kucing, laparotomi, dan IBUV. Beberapa jam setelah pelaksanaan praktikum halaman utama accoun sosial saya penuh dengan foto-foto selama operasi dan status account sosial berubah menjadi keluh kesah tentang praktikum serta kebanggaan atas posisi atau tugas saat praktikum (Operator, dan Asisten 1-6).
Pada kesempatan pertama ini, saya mendapat posisi sebagai asisten 5 yang menangani anastesi. Sebenarnya saya takut dengan tugas ini, karena saat praktikum anastesi saya gagal menyuntik hewan ketika melihat hewan itu kesakitan. Setelah berpikir saya tidak akan pernah bisa jadi dokter kalau tidak berani menyuntik, saya positif mengambil tugas ini. Bodohnya, saya berpikir hanya operator dan asisten 1 yang harus menyiapkan mental dan pemahaman. Saya baru mengingat asisten anastesi harus jago perhitungan dosis H-4 jam operasi. Hasilnya saya kursus kilat pada Talitha tentang dosis, konsentrasi, dan penggunaan obat selama operasi.
Setelah menghitung dosis dan mengambil obat yang digunakan sebagai sedasi, saya masuk ke ruang persiapan dan melihat teman-teman satu kelompok dan dua orang asisten sedang sibuk dengan kucing kelompok kami. Kejutannya adalah kucing manis dan penurut yang biasa kita gunakan untuk praktikum kabur dari kostan Aisa satu hari sebelumnya, akhirnya Aisa berburu kucing dan menemukan kucing jantan jagoan yang sangat aktif untuk kami gunakan dalam praktikum. Untuk menyuntikkan atropin ke subkutan kucing sedikit sulit dan penuh drama akibat si kucing yang stress dan memberontak. Untungnya kali ini saya cepat tanggap dan segera menyuntikkan atropin tersebut, walaupun setelah selesai saya mendapat sebuah scenes untuk cerita fiksi. Ternyata si kucing (yang belum diberi nama ini) cukup kebal dengan atropin karena saat menyuntikkan obat bius secara intra muscular perlu dua orang untuk menghandle kucing ini. saya sangat berterima kasih pada si kucing karena akibat pemberontakannya saya tidak berpikir saat menyuntiknya dan gak ada pikiran tentang perasaan atau tatapan miris dari kucing yang akan disuntik.
Tugas pertama saya selesai tapi sempat berpikir negatif 'kalau seandainya salah menghitung dosis dan kucing itu mati ditangan saya serta sayalah yang menjadi sumber/asal nilai jelek untuk kelompok kami' (Jawabannya ---> Allah masih menyayanggi saya dan kucing ini masih hidup sampai saat ini). Selanjutnya kucing yang telah dicukur dan diolesi betadine diserahkan pada manusia-manusia steril (operator dan asisten 1) dan dilakukan tindakan penyayatan dan dijahit kembali.
Saya mengakui bahwa kucing pilihan Aisa adalah jenis kucing jagoan (terlihat dari wajah sangar dan banyaknya jumlah cakaran di wajahnya). Pada menit ke-39 kucing ini menunjukkan refleks dan saya diminta untuk memberikan 1/2 dosis dari obat bius dan sifat jagoan si kucing timbul pada menit ke-43 dia mengeluarkan suara kesakitan. Untungnya saya adalah Miss. mepet yang biasa kejar-kejaran dengan waktu jadi bisa mengambil obat bius dan menyuntikkan sebelum si jagoan sadar. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan akhirnya saya memutuskan untuk mengantonggi 1/2 dosis obat bius dalam spuid tapi malah tidak digunakan (sangat menyalahi kaidah ilmu Hematologi Veteriner).
Operator mampu menyelesaikan jahitan dengan sangat rapi dan si jagoan dibawa pulang oleh Aisa. Walaupun si jagoan membuat kelompok kami repot di awal, tapi dia cukup tau diri dengan cara:
  • Tidak meminimkan keadaan fisiologisnya (suhu, frekuensi jantung dan nafas) sehingga para asisten tidak perlu repot.
  • Tidak terjadi defekasi atau urinasi (meminimkan tugas asisten 6)
cukup 2 cm untuk latihan

mulai dijahit


proses jahit kulit


Hasil jahitan ibu operator 'Nadine' yang rapi

Mungkin pada kesempatan ini saya harus mampu dan bisa dibilang berhasil 'berani nyuntik', tapi selama proses belajar kedepan saya harus menyiapkan mental untuk menyayat dengan scapel dan belajar menjahit dengan baik dan benar.

4 komentar:

  1. jahitan yang paling kiri kirang ok tuh hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. maklum lah kak, operatornya baru pertama kali jahit.
      Nanti pasti bakal lebih rapi ;)

      Hapus
  2. Komposisi warna fotonya kok bagus sih, pake kamera apa? :D
    Haha yang penting tuh bukan jago, seenggaknya bisa lah ngitung dosis. Terus kalo aku kemarin langsung siapin maintenance sebelum operasi mulai, jadi nggak lari2 dulu. :) next time nyoba jadi operator yuk. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hapenya Filuth ta...
      hahahha, iya aku gak mikir kalo asisten anastesin harus persiapan juga.
      Untung diajarin kamu, makasih ya tha..

      Iya, ntar harus jadi operator

      *BTW, ni coment bakal masuk ke emailmu gak ya???

      Hapus