Jumat, 18 November 2016

Mahasiswa dan Literasi Keuangan

Siapa yang tak kenal JK Rowling?
Sumber: pottermore.com
Sekalipun kamu seorang muggle, saya percaya kamu pasti mengenal seorang yang berhasil membawa seluruh dunia untuk masuk ke dalam sebuah dunia sihir. Saya tidak tau apakah Rowling seorang penyihir, muggle, berdarah campuran, atau mungkin dia seorang squib. Tapi seluruh dunia tau bahwa JK Rowling adalah seseorang yang memulai karir dari nol hingga saat ini menjadi seorang milyader. Saya pernah membaca artikel yang berjudul 4 pelajaran keuangan dari penulis Harry Potter dan saya sangat takjub seorang novelis milyader mempunyai mindset yang menarik terkait pengelolaan keuangan. Saya mengutip 4 pelajaran keuangan dari JK Rowling yaitu (Sumber: disini) bersiap untuk yang terburuk, bawa uang tunai, meminta bantuan profesional, dan menabung untuk pensiun.

Oktober lalu, saya bersama teman-teman dari Warung Blogger ikut serta dalam seminar edukasi "Yuk, atur uangmu" dari Sinar Mas MSIG Life. Dan hasil dari seminar ini membawa saya pada satu fakta, yaitu saya terlalu terfokus pada kehidupan saat ini dan tidak pernah punya timeline dan perencanaan untuk kehidupan mendatang. Saya adalah seorang tamatan S1 namun saat ini sedang menempuh pendidikan profesi dokter hewan. Secara umum keuangan saya masih mendapat bantuan dari orang tua. Jangan tanya tentang investasi karena saya hanya memiliki investasi berupa koleksi buku dan novel-novel di lemari. Bicara soal tabungan, saya rasa mereka akan berakhir di toko buku setelah saya simpan beberapa bulan. Seminar edukasi keuangan yang saya terima membuat saya sering kali menghela nafas dan merasa sia-sia karena tidak memiliki sedikit tabungan untuk memulai awal masa pengangguran saya nanti (yang mungkin hanya tersisa beberapa hari lagi). 
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), angka literasi keuangan masyarakat Indonesia (2013) yang memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga keuangan serta produk keuangan dan memiliki keterampilan dalam menggunakan produk jasa keuangan hanya 21.8 %. Dan saya yakin tidak termasuk dalam 21.8% masyarakat tersebut. Jika saya adalah JK Rowling yang sempat mengalami kehidupan sangat sulit selama masa awal penulisan kisah Harry Potter kemudian menjadi seorang milyader melalui kisah tersebut, saya yakin siapapun itu akan mempersiapkan investasi dan tabungan untuk masa depan yang lebih baik. Nah, dari 4 pelajaran keuangan dari penulis Harry Potter dan beberapa materi yang dibagikan dalam seminar saya bisa mengkategorikan pengelolaan keuangan yang akan saya lakukan menabung untuk mempersiapkan diri saya terhadap kemungkinan yang terburuk, membayar dengan uang tunai agar tidak tergoda berbelanja berlebihan ketika menggunakan fasilitas debit card ataupun internet banking, namun saya belum memiliki kemampuan dan keterampilan untuk berinvestasi.
Nujmatul Laily dari Universitas Negeri Malang menuliskan sebuah jurnal yang berjudul "Pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku mahasiswa dalam mengelola keuangan". Jurnal tersebut mengamati perilaku keuangan mahasiswa dan literasi keuangan yang mereka miliki. Nujmatul Laily menuliskan bahwa kemampuan menorganisir keuangan dengan baik, jumlah uang yang masuk dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, serta bijak atau tidaknya penggunaan uang tersebut dipengaruhi secara langsung oleh literasi keuangan. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola keuangan maka semakin bijak mereka dalam mengambil keputusan keuangan. Jika saya lebih awal dalam mendapatkan edukasi terkait pengelolaan keuangan, mungkin rak buku saya akan tetap penuh, namun saldo tabungan akan tetap dalam kondisi yang baik. 


Ibu Mieke sebagai narasumber dalam seminar edukasi "Yuk, Atur Uangmu" memiliki cara yang sangat menarik dalam mengedukasi masyarakat untuk mengetahui berbagai produk dan jasa keuangan serta belajar terkait keterampilan dalam menggunakan produk tersebut. Permainan ini secara umum mirip dengan monopoli internasional yang saya mainkan ketika kecil (sampe sekarang masih main). Namun, permainan ini merupakan simulasi seorang dengan profesi tertentu, penghasilan tertentu, dan memiliki aset dalam jumlah tertentu. Setiap pemain akan mendapat kesempatan untuk berinvestasi atau mendapat musibah berdasarkan kotak yang ditempuh. Ingin tau hasil saya dalam permainan ini, FAILED. Saya gagal, saya secara jelas tidak memiliki keberanian untuk berinvestasi dan meminjam sejumlah dana di bank, tapi saya percaya apabila saya bermain dalam waktu yang lebih lama akan mendapat peningkatan penghasilan dalam jumlah besar.
Kesimpulan dari permainan tersebut adalah literasi keuangan erat kaitannya dengan manajemen keuangan sehingga edukasi terkait literasi keuangan perlu dilakukan sejak usia dini. OJK telah mulai melaksanakan edukasi tersebut melalui buku seri pendidikan literasi keuangan dari tingkat SD (kelas V, VI), SMP SMA, hingga perguruan tinggi. Buku seri ini bisa diunduh di sikapiuangmu.ojk.go.id dan dari data yang diperoleh OJK, buku tersebut telah diunduh oleh 18% dari populasi mahasiswa di Indonesia. OJK, maafkan saya yang tidak teredukasi dan tidak mengunduh, saya berharap melalui tulisan ini semakin banyak mahasiswa yang berminat dan teredukasi sehingga memiliki literasi keuangan yang baik (Wall literate).
sikapiuangmu.ojk.go.id#sthash.1tShMnJS.dpuf


Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Writing Competition "Yuk, atur uangmu" oleh Sinar Mas MSIG Life, Salam Smile :-)

www.sinarmasmsiglife.co.id

Sumber:
  1. http://bisnis.liputan6.com/read/2632237/4-pelajaran-keuangan-dari-penulis-novel-harry-potter
  2. http://www.ojk.go.id/id/kanal/edukasi-dan-perlindungan-konsumen/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Siaran-Pers-OJK-Luncurkan-Buku-Literasi-Keuangan-Tingkat-Perguruan-Tinggi.aspx
  3. http://www.ojk.go.id/id/kanal/edukasi-dan-perlindungan-konsumen/Pages/Literasi-Keuangan.aspx

1 komentar:

  1. with... aku ngebacanya sambil makan bakso, ngga berasa udah abis dua mangkok hehehehe

    BalasHapus