Minggu, 06 November 2016

Festival Jajanan dan Makanan Pesisir Karimun Jawa

Amir Hasan merupakan putra Sunan Kudus yang diusir karena melalaikan tugas untuk memimpin pesantren ketika ayahnya ditugaskan mengantarkan jemaah haji ke Mekkah dan Madinah. Kemudian Amir Hasan berguru pada Sunan Muria. Setelah ilmu agamanya dirasa cukup, Amir Hasan dikirim oleh Sunan Kudus dan Sunan Muria untuk menyebarkan agama islam ke daerah baru. Amir Hasan dan dua orang santri berangkat ke utara laut jawa dan setelah tiba di kawasan baru beliau meminta kedua santri tersebut menyampaikan kabar tersebut kepada Sunan Kudus dan Sunan Muria. Sunan Kudus dan Sunan Muria bahagia menerima kabar tersebut dan mengirimkan hadiah berupa mustaka (pucuk mesjid), pecel lele, pepes siput, satu buah nangka besar, dan seunting padi. Namun pecel lele dan pepesan siput dibuang oleh Amir Hasan ke kali kecil di dekatnya sambil berkata "Siapa tahu lele dan siput tersebut akan menjadi sumber kehidupan anak cucu kita di tanah yang baru". Saat ini daerah tersebut diberi nama Legon Lele dan terdapat lele tanpa patil yang hidup di air payau. Konon katanya, lele tanpa patil di Karimun Jawa ada karena Amir Hasan membuang pecel lele yang sudah di masak dan dibuang patilnya ke dalam kali.
Sangat disayangkan, saya tidak sempat mencicipi masakan lele yang konon merupakan biakan dari pecel lele hadiah untuk Amir Hasan dari dua sunan terbesar di pulau jawa. Namun, saya termasuk orang yang beruntung karena berkunjung ke kepulauan Karimun Jawa saat dilaksanakan Festival Jajanan dan Makanan Pesisir. Karimun jawa merupakan kepulauan di utara pulau jawa yang namanya bermakna samar-samar terlihat dari pulau jawa. Selain itu, karimun jawa juga memiliki makna yang mulia di laut jawa. Tak hanya tujuan mulia Amir Hasan untuk menyebarkan agama islam di daerah baru tersebut, namun Karimun Jawa juga memiliki kemuliaan untuk kekayaan biota lautnya.

Pedagang Pasar Tradisional Karimun Jawa (Foto: Koleksi Pribadi)
Karimun Jawa merupakan salah satu kawasan wisata favorit dan salah satu cara untuk meningkatkan minat wisatawan dengan melaksanakan festival jajanan pesisir. Masyarakat akan berbondong-bondong menyajikan aneka masakan seafood dengan harga yang menakjubkan namun rasa tetap yang terbaik. Sebagian besar masyarakat karimun jawa memiliki profesi sebagai nelayan. Jadi tak heran jika harga makanan asal laut di Karimun Jawa sangat terjangkau, sedangkan harga bahan pangan lain seperti ayam, telur, dan sayur relatif lebih mahal. Saya dan teman-teman sempat berkunjung ke pasar tradisional untuk berinteraksi dengan para pedagang. Dan dari observasi yang kami lakukan diketahui bahwa sebagian besar bahan pangan yang digunakan di karimun jawa berasal dari Jepara yang diangkut dengan kapal feri, penjualan hasil laut dari para nelayan, dan sedikit diantaranya berasal dari kebun warga. 


Udang Goreng Saos Asam Manis (Foto: Koleksi Pribadi)
Udang goreng dengan saos asam manis diatas berasal dari salah satu booth makanan yang membuat saya tercengang. Saya bisa menikmati udang goreng asam manis diatas hanya dengan mengeluarkan uang senilai 45.000 rupiah. Masakan tersebut dibuat dari udang kipas dengan bobot 500 gram untuk satu porsi. Udang kipas memiliki nilai jual yang relatif murah, namun memiliki kandungan Vitamin D yang cukup tinggi, selain itu juga mengandung Vitamn B, B12, A, C, dan kandungan mineral selenium dan kalsium. Kandungan selenium baik untuk meningkatkan imunitas tubuh, sedangkan kalsium dalam udang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan tulang. Udang kipas dan makanan asal laut lainnya memiliki nilai gizi yang tinggi dengan harga yang relatif murah di wilayah pesisir sehingga jenis makanan ini cocok dijadikan sumber nutrisi untuk bangsa.
Udang kipas saos asam manis yamng saya beli di festival jajanan pesisir memiliki rasa yang sangat lezat. Daging udang didalamnya dimasak dengan tingkat kematangan yang tepat dan tekstur yang sangat lembut. Masakan ini enak dimakan dengan nasi ataupun dimakan tanpa nasi. Saya dan teman-teman tidak bisa berhenti makan ketika daging dalam cangkang sudah habis, karena bumbu saos asam manis yang melekat pada cangkang memiliki rasa yang tak bisa ditinggalkan.
 
Booth Penjual Udang Kipas (Foto: Koleksi Pribadi)
Karimun Jawa merupakan surga bagi para penikmat dan pecinta olahan seafood, namun kepulauan ini merupakan neraka bagi mereka yang memiliki riwayat alergi seafood tapi nakal dan tidak bisa menahan diri ketika disajikan masakan lezat dengan bahan seafood.
Saya merupakan salah satu orang yang sangat mencintai masakan olahan seafood namun terhalang pada reaksi anafilaksis yang terjadi setelah mengkonsumsi olahan seafood dalam jumlah banyak. Akibatnya, saya harus membawa pulang bekas alergi setelah seminggu hidup di kepulauan dan disajikan berbagai masakan olahan seafood oleh ibu pemilik wisma. Reaksi alergi yang timbul pada saat itu timbul karena saya terlena dan lupa mengkonsumsi obat anti alergi setelah mengkonsumsi olahan seafood dalam jumlah yang cukup banyak. Saya memiliki beberapa tips untuk kalian para penikmat seafood tapi terhalang oleh reaksi alergi dari tubuh:
  1. Siapkan obat anti alergi dan NSAID di setiap perjalanan kamu, terutama ketika perjalanan ke wilayah yang dekat dengan laut dan memiliki banyak variasi masakan olahan seafood apalagi harganya murah.
  2. Kenali batas kemampuan tubuhmu menerima asupan seafood hingga menimbulkan reaksi alergi. Jadi kamu bisa memakan olahan seafood sesuai batas kemampuan tubuhmu. Tapi kalau sedang kalap kembali ke tips pertama, kamu akan aman karena selalu menyiapkan pertolongan pertama kalau reaksi alergi itu muncul.
Masyarakat dengan mata pencharian utama dari sektor bahari terdiri atas beberapa golongan. Selama di Karimun Jawa, saya sempat berkunjung ke lokasi tambak ikan kerapu di tengah lautan jawa. Hasil panen ikan kerapu dari tambak ini dijual langsung ke restoran-restoran sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tambak menggunakan wilayah laut yang disekat dan diberi jaring untuk memelihara ikan kerapu hingga siap panen. Selain itu terdapat pula masyarakat yang merupakan nelayan tradisional yang melaut menggunakan perahu sederhana dan menangkap ikan secara tradisional pula. Para nelayan ini biasanya menjual hasil tangkapan secara langsung di pasar tradisional atau dijual pada pengumpul di dermaga.

Tambak Ikan Kerapu di Tengah Laut Jawa (Foto: Koleksi Pribadi)

Pegawai yang Menyiapkan Pakan Ikan Kerapu (Foto: Koleksi Pribadi)
Nelayan Pulang dari Laut (Foto: Koleksi Pribadi)

Indonesia merupakan negara bahari dengan kejayaan masa lalu yang tidak mudah dilupakan. Kerajaan Sriwijaya yang dikenal dengan kekuatannya diatas hempasan ombak lautan yang mampu menguasai wilayah Republik Indonesia saat ini hingga ke Semenanjung Malaya dan Laut Cina Selatan. Kejayaan ini diikuti oleh masyarakat dari suku Bugis yang terkenal jaya di lautan bersama kekuatan phinisi. Indonesia merupakan negara kepulauan,jadi pusat wisata kuliner dan jajanan pesisir tak hanya berkembang di Kepulauan Karimun Jawa. Masih banyak kawasan pesisir dan pinggir pantai Indonesia yang bisa menjadi pusat wisata kuliner dan jajanan pesisir yang harus dikembangkan dan dipromosikan. Dalam 4 tahun terakhir Sari Husada gencar mempromosikan potensi kuliner nusantara melalui kegiatan Jelajah Gizi dan Nutrisi Untuk Bangsa. Nah, di tahun 2016 Sari Husada akan mengangkat topik Jelajah Gizi Minahasa. Minahasa merupakan kawasan semenanjung di bagian timur laut Pulau Sulawesi. Berdasarkan letak secara geografis, Minahasa memiliki kekayaan alam yang berlimpah baik di darat maupun lautan. Selain itu, Minahasa memiliki keunikan di bidang kuliner terutama kuliner dengan olahan pangan asal laut. 



Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan alam yang berlimpah dengan sejarah dan kejayaan masa lalu yang akan diingat oleh seluruh dunia. Oleh karena itu sebagai anak bangsa ini kita harus menangkat potensi bangsa kita ke permukaan terutama potensi kuliner yang berasal dari olahan seafood. Dengan adanya pengenalan potensi olahan seafood diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat terutama nelayan. Jadi tak hanya ada wisata kuliner masakan olahan seafood namun disertai wisata bahari dan pengenalan profesi nelayan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Jelajah Gizi Minahasa yang dilaksanakan oleh Sari Husada bekerja sama dengan Blog Detik.
Sumber:
  1. http://www.putrakarimunjawa.com/2011/01/sejarah-karimunjawa.html
  2. http://avitvien.blogspot.co.id/2011/04/udang-kipas.html

8 komentar:

  1. waduh lezat banget kak itu udangnya, malah gede lagi :'D

    BalasHapus
  2. Iya lam, enak banget.... pokoknya kalau liburan kesana puas makan seafood ☺☺

    BalasHapus
  3. festival seru sekali ya ada yang jual udang juga, uhh terlihat enak sekali..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, udangnya udah dimasak, rasanya enak, dan harga sangat terjangkau 😁😁

      Hapus
  4. udang makanan kesukaanku ... sip sip

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga sukaa udang, tapi sayangnya alergi seafood T.T

      Hapus
  5. Nampaknya sedap itu udangnya huaaa mauuuu :)

    omnduut.com

    BalasHapus