Senin, 31 Oktober 2016

Jakarta Night Journey, Wisata Menjelajah Waktu

Beberapa hari setelah perayaan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ke-9 dibentuk panitia yang akan mempersiapkan sebuah monumen yang merupakan karya budaya setinggi-tingginya, menggambarkan kalbu dan keluhuran  budaya Indonesia, menunjukkan kepribadian bangsa Indonesia, serta menimbulkan semangat kepahlawanan. Pembangunan monas dikelola oleh Tim Yuri yang dipimpin langsung oleh presiden Soekarno. Awalnya, tim Yuri melakukan sayembara untuk design monas tapi tidak menemukan karya yang menggambarkan harapan pendirian monas. Presiden Soekarno lalu menunjuk Soedarsono dan Frederick Silaban untuk membuat design monumen yang sesuai harapan tim Yuri. Kemudian dipilih design dari Soedarsono yang mengandung makna Lingga dan Yoni yang menggambarkan kehidupan abadi, Lingga dan Yoni yang serupa dengan Alu dan Lumpang yang menggambarkan tradisi masyarakat Indonesia, dan sebuah monumen yang menjulang ke langit dengan lidah api yang menggambarkan semangat kebangsaan diatasnya.
Jika bisa memilih saya ingin diajak berwisata menjelajahi waktu tapi itu tidak mungkin. Mungkin ide gila menjelajahi waktu yang mendorong pembangunan banyak museum di berbagai penjuru dunia. Hari sabtu 22 Oktober 2016 lalu, saya diajak berwisata menjelajahi waktu bersama Indonesia Corners yang disponsori oleh Asus Indonesia. Kami mengunjungi Balai Kota dan Jakarta Smart City, Kawasan Kota Tua dengan Bus City Tour Jakarta, dan menikmati angin malam di puncak Monumen Nasional.
Teras Balai Kota DKI Jakarta (Foto: Bandung Diary)
Balai Kota Jakarta merupakan bangunan tua tempat dimana keputusan tertinggi untuk provinsi DKI Jakarta dibuat. Didalam bangunan dengan gaya Tuscan ini terdapat ruang kerja Gubernur DKI Jakarta, ruangan pertemuan dengan tamu pemerintah provinsi DKI Jakarta, dan ruang galeri. Gedung ini awalnya digunakan sebagai rumah dinas bagi Burgemeester (Wali kota) hingga akhirnya gedung ini menjadi kantor pemerintahan setelah perluasan Batavia ke arah selatan. Hal paling menarik dari Balai Kota Jakarta adalah gedung ini terbuka untuk umum setiap hari sabtu dan minggu. Masyarakat DKI Jakarta dan wisatawan bisa berdiri langsung di depan ruang kerja orang nomor 1 di DKI Jakarta, duduk diantara lukisan para pemimpin ibu kota Republik Indonesia di ruang galeri foto, dan menyaksikan perkembangan pembangunan DKI Jakarta di aula Balai Kota. 

Saya dan teman-teman Blogger sedang beristirahat di Ruang Galeri Foto (Foto: Bandung Diary)
Balai Kota DKI memang tidak seluas dan menjulang tinggi seperti gedung Pemprov DKI di sebelahnya, tapi di lantai 3 gedung Balai Kota terdapat sebuah pengembangan teknologi canggih yang tak terduga ada di Indonesia. Dalam novel fiksi ilmiah, ada banyak teknologi tak terduga seperti penanaman prosesor di otak, membagi manusia berdasarkan satu sifat terkuat yang dimilikinya, atau mengurung manusia dalam sebuah sistem untuk melihat kemampuan mereka bertahan hidup. Tapi bukan teknologi semacam itu yang tersimpan rapi di lantai 3 Balai Kota Jakarta. Namun, sebuah inovasi teknologi untuk mempermudah pengaduan masyarakat dan mempercepat tanggapan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan masyarakat yang dirangkum dalam 3 kata, Jakarta Smart City. Inovasi teknologi ini menggunakan sebuah aplikasi android yang disebut Qlue. Qlue memudahkan masyarakat untuk mengirimkan pengaduan pada pemerintah dengan menyertakan lokasi laporan dan foto keadaan yang dilaporkan, kemudian tenaga ahli profesional di Jakarta Smart City akan menyampaikan keluhan ke dinas terkait untuk diselesaikan. Jangan takut laporan yang disampaikan masyarakat tidak diatasi, karena Jakarta Smart City menerapkan komunikasi 2 arah karena setelah masalah dalam laporan diselesaikan petugas akan melaporkan hasil kerjanya beserta foto. Data laporan yang dikirim melalui qlue akan dibagi berdasarkan dinas yang bertanggung jawab terhadap permasalahan tersebut. Jakarta Smart City akan membagi laporan tersebut menjadi 3 kategori, yaitu Laporan baru masuk dan belum diatasi (Merah), sedang diatasi (Kuning), dan sudah diatasi (Hijau).Semua data diatas bisa diakses oleh masyarakat umum di website Jakarta Smart City (disini). Teknologi yang paling saya suka dari Jakarta Smart City adalah CCTV online secara real time jadi kita bisa melihat secara langsung kondisi jalanan ibu kota sehingga bisa menghindari titik-titik kemacetan dan mempermudah pengguna jalan.
Rekapitulasi Laporan Pengaduan Masyarakat
Kota tua merupakan sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh tembok tinggi dengan persenjataan lengkap. Sebuah kota kecil yang dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa dan merupakan simbol kejayaan bagi siapa yang memilikinya. Kondisi ini mengakibatkan Kota Tua diperebutkan oleh Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda Pajajaran, Kesultanan Banten, Jayakarta, VOC, dan Pemerintah Jepang. Bukti bahwa Kota Tua pernah direbut oleh Kerajaan Sunda Pajajaran adalah penamaan Glodok yang berasal dari suara tetesan air di daerah ini karena dulunya kawasan ini merupakan gerbang dari kerajaan sunda. Namun, kawasan kota tua lebih lama dikuasai oleh Belanda atau VOC terlihat dari arsitektur gedung-gedung di kota kecil ini dengan gaya Tuscani, khas bangunan Belanda lainnya. Selain itu di dalam museum-museum seputaran kota tua ada banyak prasasti atau simbolis yang menyatakan kepemilikan gedung dan tanah di kawasan ini.
Indonesia corners di Kota Tua (Foto: ID Corners)
 Saat ini kota tua telah menjadi situs budaya warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Kota tua menjadi situs wisata favorit para penjelajah waktu yang ingin menelusuri sejarah perjuangan bangsa ini dan para pemilik mata di balik kamera yang ingin mengabdikan keindahan sejarah masa lalu yang masih berdiri kokoh di tanah NKRI atau orang-orang yang hanya sekedar ingin mengisi waktu dan beristirahat di sekotak kecil sisa kejayaan masa lalu yang diperebutkan oleh banyak kekuatan. 
Saya bersama teman-teman blogger Indonesia Corners beranjak dari Balai Kota menuju Kota Tua dan diantarkan ke Monumen Nasional bersama Bus City Tour Jakarta yang merupakan transportasi gratis bagi para penikmat kota Jakarta. Bus ini merupakan bus 2 tingkat yang berkeliling Jakarta dan memberikan informasi terkait gedung-gedung bersejarah di DKI Jakarta yang dilewatinya. Sangat menyenangkan duduk di bangku paling depan bus ini ditengah kemacetan ibu kota dan melewati gedung-gedung yang menjadi saksi perjuangan para pendahulu kita.
Ayo Ke Monumen Nasional (Foto: Salam)
Dalam rapat penyusunan naskah proklamasi di rumah milik Laksamana Muda Maeda tanggal 16 Agustus 1945, pembacaan proklamasi diusulkan akan dilakukan di lapangan IKADA. Namun, rencana ini dibatalkan karena Jepang masih menyembunyikan kekalahan mereka melawan sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki di bumi hanguskan. Tapi hingga saat ini kamu bisa mendengarkan suara Ir. Soekarno saat membacakan teks proklamasi pada jam-jam tertentu di ruang proklamasi. Monumen Nasional merupakan simbol negara Republik Indonesia yang pembangunanya sempat terhenti karena permasalahan dana. Namun dengan keteguhan hati Ir. Soekarno dan seluruh masyarakat Indonesia, kita dapat menyaksikan sebuah monumen yang melambangkan Yonny dan Lingga dengan perunggu berlapis emas setinggi 17 meter dipuncakya.
Mesjid Istiqlal dan Katedral dari ketinggian 115 meter
Saya sudah dua kali naik ke puncak monas, namun baru kali ini bisa naik ke puncak monas di malam hari. Puncak monas dibuka untuk masyarakat umum dan pada ketinggian 115 meter kita bisa menyaksikan gedung-gedung di seputaran jalan merdeka. Salah satunya adalah Mesjid Istiqlal yang di design oleh Frederick Silaban yang merupakan salah satu arsitek yang mendesign monas. Dari puncak monas, kita bisa menyaksikan bahwa Bhineka Tunggal Ika merupakan jiwa bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Dua rumah ibadah terbesar berdiri saling berdampingan dan tetap kokoh pada pondasi mereka.
Nah.... Jakarta Night Tour merupakan perjalanan sepanjang hari menjelajahi waktu memgelilingi kota Jakarta. Kota Tua yang menunjukkan perjuangan pendahulu dalam melawan penjajah, Monumen Nasional yang menggambarkan keteguhan hati para pendiri bangsa Indonesia untuk menunjukkan jati diri bangsa, Balai Kota Jakarta sebuah bangunan yang menunjukkan kondisi pembangunan ibu kota dalam beberapa tahun terakhir, dan Jakarta Smart City yang secara terbuka menunjukkan kondisi masyarakat dan ibu kota saat ini dan detik ini. Perjalan panjang ini tidak akan menyenangkan jika dilalui sendiri tanpa mengabadikannya dalam gambar dan tulisan. Untuk alasan itu dibutuhkan sebuah teknologi kamera dengan fokus lebih cepat, gambar yang jernih, dan akurasi warna yang tinggi. Teknologi yang bisa digunakan adalah tri-tech auto focus yang mengombinasikan software ekslusif dengan tiga teknik fokus independen dalam sebuah ponsel pintar Asus ZenFone 3. Dengan kapasitas baterai 3000 mAh, ponsel ini sudah bisa menemani perjalanan satu hari dengan penggunaan kamera cukup sering untuk mengabadikan gambar serta penggunaan internet selama perjalanan. Dalam peribahasa disebutkan "Sedia payung sebelum hujan", dan dalam perjalanan pasti disebut "Sedia Powerbank sebelum kehabisan baterai handphone". Nah, ZenPower ultra merupakan payung yang paling cocok untuk menemani kamu dan ZenFone 3 dalam sebuah perjalanan, apalagi perjalanan menjelajahi waktu.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Jakarta Night Journey Blog Competition oleh Indonesia Corners yang disponsori oleh Asus Indonesia

Sumber:
  1. http://satupedang.blogspot.co.id/2015/08/sejarah-pembangunan-monas-monumen.html#
  2. http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/63/Balai-Kota-Gedung 
  3. http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150912110321-269-78233/sejarah-panjang-kompleks-balai-kota-jakarta/ 
  4. http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/4057/kota-tua

14 komentar:

  1. ini wajah jakarta yang ceria ya,feb. kapan-kapan saya mau ke kota tua lagi, sama planetarium! belum tuntas urusan di dua tempat itu hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya harus teh.... Di kota tua pecelnya enak :-)

      Hapus
  2. Sejarah banget nih emang Feby, hehe.. yuk ah kapan2 kita jalan lagi menuntaskan rasa penasaran yang belum terpuaskan lebih jauh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhaha... iya mbak, aku dulunya mau kuliah di jurusan sejarah tapi gak jadi T.T...
      Boleh... boleh.. masih banyak tempat di Jakarta yang belum dikunjungi

      Hapus
  3. ntaplah!!! lagi2 yuk ke puncak monas! :D hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuuuu... tapi jangan weekend. Antriannya booo, gue gak sanggup

      Hapus
  4. Gue masih bingungnya itu masjid dan gereja bisa berdampingan. Sebuah toleransi yang indah sekali. Sayangnya, Jakarta sedang mempermasalahkan seorang pemimpin. :')

    Angin di puncaknya itu tapi bikin masuk angin euy~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sekarang masyarakatbkita udah jauh banget dari toleransi antar agama...

      Angin di puncak monas bikin gue pengen terbang, untung di pagerin kalo gak pasti udah jatoh

      Hapus
  5. Sejarah tentang Kota Tua oke banget nih, gak pernah bosen nyambangin tempatnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kota tua emang keren banget. Apalagi tukang pecel di sekitar sana dan semua jajanan enak pkl kota tua

      Hapus
  6. tulisannya runut dan lengkap, thanks for sharing, dear!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak dona udah mampir disini 😁😁

      Hapus
  7. Akuh blom pernah naik monaas..

    BalasHapus
  8. Very padet dan meaning banget tulisan Feby, jadi tahu sejarah dan fungsi masing2 bangunan di Jakarta ini

    BalasHapus