Senin, 18 Mei 2015

Jurnal 102, SOS Sharks

Sampe lupa kapan terakhir kali menulis di blog ini, kalau di postingan terakhir sih tertulis 17 Januari 2015 (setidaknya di tahun 2015 ini saya sudah menulis 1 postingan).
Hari ini ketika saya sedang duduk manis di ruang patologi dan kurang kerjaan sehingga bisa blogwalking dan lirik-lirik perkembangan terbaru tentang satwa liar, kembali saya menemukan banyak poster tentang perburuan hiu #SOSSharks. Permasalahan satwa liar yang hampir punah memang terlihat sangat sederhana, mungkin banyak orang yang akan bilang "Ya udah sih kalau emang hiu punah apa ngaruhnya ke kehidupan manusia".
Dulu waktu masih kecil, yang saya tau hanya lah kita akan kehilangan banyak aset ketika harimau, gajah, hiu punah dari muka bumi. Seperti ketika kita kehilangan dinosaurus dan hanya bisa melihat mereka dari sketsa-sketsa gambar, film-film, dan semua hal yang berbau multimedia. Setelah belajar banyak hal tentang kehidupan hewan, satwa liar, dan kehidupan ekosistem alam semesta. Saya sadar bahwa mereka (gajah, harimau, badak, hiu, dan banyak satwa yang hampir punah) bukan hanya bagian yang melengkapi alam semesta, mereka adalah bagian yang memberi keseimbangan untuk kehidupan di muka bumi. Dalam bidang ilmu yang saya pelajari banyak dijelaskan bahwa hampir semua pennyakit baru yang muncul dalam kehidupan manusia dan lingkungan saat ini berasal dari hewan terutama satwa liar. 
Kok bisa?? Satwa liar hidupnya ya di hutan, ketika mereka di tangkap dan dijadiin hewan kesayangan di rumah-rumah, ketika hutan tempat tinggal mereka di rambah dan mereka sering kali dianggap hama yang masuk ke lahan warga, ketika kehidupan mereka semakin dekat dengan aktivitas manusia maka semakin banyak pertukaran agen penyakit yang harusnya bukan apa-apa dan menyebabkan sakit pada satwa liar dan pada manusia bisa menyebabkan penyakit. Oke, kalimat diatas terlalu berbelit-belit dan bahkan saya sulit mengerti (mengingat pembahasan tentang zoonosis dibahas dalam perkuliahan 1 semester dan saya hanya bisa menuliskan dalam beberapa kalimat amburadul). Ingatlah pada HIV/AIDS, Ebola, Rabies, Flu Burung, Flu Babi, SARS, MERS, dan banyak penyakit baru yang digembor-gemborkan media. Dari mana asal penyakit itu?? Hampir semua penyakit itu berasal dari satwa liar yang kemudian menular ke hewan produksi dan hewan kesayangan hingga akhirnya menjadi ancaman bagi kesehatan manusia.
Kembali ke hiu, mau jadi apa lautan indonesia tanpa hiu. Dari beberapa artikel dan poster yang saya baca, kehilangan hiu sama dengan kehilangan semua ekosistem di lautan. Hiu merupakan predator teratas di piramida makanan ekosistem lautan sehingga ketika hiu punah memberikan pengaruh yang sangat besar bagi ekosistem dibawahnya.
Beberapa waktu lalu, saya pernah menonton salah satu film dokumenter di stasiun televisi swasta. Acara tersebut menayangkan tentang perjalanan menyusuri pantai dan diceritakan dalam salah satu scenenya tentang perburuan hiu. Seorang nelayan akan melaut dengan perahunya kemudian mereka akan menjaring hiu dan ditarik ke pinggir pantai. Di pinggir pantai sirip hiu tersebut dipotong dan hiu dibiarkan tetap hidup hingga tenggelam di lautan dan mati.
Adakah yang lebih menyedihkan dibandingkan hal itu? 

0 komentar:

Posting Komentar