Senin, 31 Maret 2014

Jurnal 93, One World One Health

Pertengahan bulan maret lalu, saya dan teman-teman bersemangat untuk ikut berdiskusi tentang lingkungan bersama WWF dan BlogDetik. Ketika melihat pengumuman tentang acara yang hanya mengundang 100 blogger saya segera mendaftar dan mengajak beberapa teman blogger yang memiliki satu minat yaitu satwa liar. Hal pertama yang saya pikirkan tentang WWF adalah kepedulian NGO ini terhadap satwa liar dan tentu saja, lingkungan. Acara yang berlangsung setelah makan siang ini memberikan banyak pengetahuan tentang lingkungan yang kadang terlupakan. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk lingkungan, dan tindakan tersebut bisa berefek positif maupun negatif bagi bumi yang kita tinggali ini. Kita bisa menghemat penggunaan plastik atau menguranggi penggunaan bahan bakar dan listrik. Tapi apakah kita melakukan hal tersebut??
Masalah yang tak kunjung berakhir dan paling lekat di pikiran kita tentang lingkungan adalah terkait sampah. Bicara tentang sampah dan pengelolaannya tak pernah ada habisnya. Beberapa tahun terakhir mulai dilakukan pemisahan tong sampah di Indonesia, tapi apakah itu memberi pengaruh positif? Mungkin banyak kelemahan dari pengelolaan sampah di Indonesia yang menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan dan bahkan bencana. Kita tak usah membicarakan program pemerintah dan tindakan orang lain, yang harus kita lakukan adalah manajemen sampah pribadi? Talk Less, Do More!! Kita tidak pernah bisa mengubah orang lain hanya dengan nasehat dan ucapan. Namun, kita bisa mengubah kebiasaan orang banyak dengan membudayakan kebiasaan-kebiasaan positif yang mungkin akan di tiru orang lain.
Blogger bicara lingkungan bersama WWF dan BlogDetik telah banyak mengupas tentang lingkungan, terutama manajemen sampah dan apa yang bisa kita lakukan untuk lingkungan sekitar. Sebelum berangkat ke Jakarta, saya berharap diskusi ini akan banyak membahas tentang satwa liar. Tapi topik ini sangat sedikit disinggung karena ketika bicara tentang lingkungan hal yang tampak jelas oleh kita hanya masalah yang ada tepat di depan mata kita. Dan, hal yang palin melekat dipikiran saya setelah mengikuti diskusi ini adalah bukan hanya tentang sampah, perambahan hutan, dan kebakaran hutan yang bisa berakibat buruk pada lingkungan. Masih banyak kondisi-kondisi yang mengakibatkan kerusakan lingkungan yang lebih besar tapi kita tidak tau berasal dari mana.
Berburu dan memelihara satwa liar itu adalah bentuk kerusakan lingkungan yang akibatnya gak keliatan seperti sampah atau pembakaran hutan.
Bagan keseimbangan ekosistem di alam (Sumber: Slide kuliah)
Setiap mahluk di dunia ini memiliki peran terhadap lingkungan dan kondisi tersebut akan tetap stabil ketika semua mahluk dan sistem berlangsung sesuai dengan kondisi seharusnya. Mungkin sistem ini mirip dengan problem tentang sampah, ketika sampah dibuang pada tempatnya kemudian oleh pengelolanya dimanfaatkan sesuai kondisi sampah sampah tersebut maka tidak akan terjadi bencana. Nah, ketika satwa liar hidup di hutan dan hutannya tetap di lindungi pasti tidak akan terjadi bencana. Lalu, apa aja sih bencana akibat kerusakan hutan?
  • Asap akibat kerusakan hutan? Pasti, udah liat sendiri kan akibatnya di Riau dan sekitarnya
  • Banjir dan tanah longsor? Yep, akibat kurangnya wilayah resapan dan tidak adanya barier sebagai penahan air yang berasal dari wilayah lebih tinggi.
  • Perkampungan atau perkebunan yang di ganggu gajah atau orang utan? Nah, coba tanya lagi gajah yang menganggu perkampungan warga atau warga yang tinggal dan membuka kebun di wilayah jelajah si gajah? Satwa yang hidup di hutan hidup di alam liar itu hidupnya monoton, hidup dengan melewati wilayah sendiri dan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan atau satwa lain disekitarnya sebagai makanan.
Bukan hanya menjadi hama di perkampungan warga dan perkebunan (yang awalnya wilayah jelajah satwa), tapi perusakan hutan dan perburuan satwa bisa mengakibatkan hal buruk terhadap kesehatan masyarakat. Dari mana datangnya flu burung, rabies, dan mungkin ebola di afrika? Sebagian besar penyakit tersebut berasal dari hewan dan banyak diantaranya bersumber dari satwa liar.
Ada banyak manusia dengan berbagai profesi dan setiap profesi memiliki pandangan yang berbeda tentang cara memanfaatkan sumber daya alam. Terkadang beberapa profesi mengakibatkan kerusakan terhadap lingkungan ketika memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Dan beberapa profesi termasuk salah satunya dokter hewan (profesi yang akan saya jalani setelah lulus nanti) bergabung untuk mewujudkan One World, One World, One Health, One Medicine melaui Ecohealth. Ecohealth mempersatukan berbagai kalangan mulai dari dokter, dokter hewan, ahli konservasi, ahli ekologi, ahli ekonomi, ahli sosial, ahli perencana dan lain sebagainya untuk secara komprehensif mempelajari dan memahami bagaimana perubahan ekosistem secara negatif berdampak kepada kesehatan manusia dan hewan (Tri Satya Putri Naipospos dalam Blog Veterinerku)
Perubahan harus dilakukan mulai saat ini dan dimulai dari diri sendiri. Dan perubahan akan lebih baik jika dilakukan bersama untuk mewujudkan lingkungan dengan keseimbangan pada ekosistem.
Saya hanyalah manusia biasa yang mungkin berbuat kesalahan, dan saya mungkin bukan orang yang memiliki tangan suci yang tak pernah merusak lingkungan Saya hanyalah seorang manusia yang sedang berusaha berbuat hal-hal yang baik bagi lingkungan. What can i do?
  • Sebagai pribadi mulai menghemat penggunaan plastik, kertas, listrik, dan mulai menerapkan 3R memanfaatkan sampah layak guna untuk scrapbook
  • Sebagai seorang yang akan menjadi dokter hewan, saya akan mempelajari tentang ecohealth dan apa yang harus saya persiapkan sejak dini untuk ikut serta dalam mewujudkan ecohealth
  • Sebagai seorang yang berminat di bidang satwa liar, saya menghimbau orang-orang yang membaca tulisan ini dan orang berdiskusi tentang satwa liar untuk lebih mencintai mereka dengan membiarkan mereka tetap di alamnya. Mencintai itu tak harus memiliki bukan?
  • Sebagai blogger sudah seharusnya menghimbau para penghuni dunia maya untuk lebih bijak dalam menggunakan produk demi lingkungan yang baik dan demi mempertahankan bumi yang pantas bagi anak cucu kelak. Talk less do more mungkin baik untuk menyebarkan kebiasaan baik bagi orang-orang, tapi menulis tentang lingkungan dan menyebarkannya lebih baik. Itu gunanya blogger kan?
  • Lalu bagaimana dengan sebagai warga negara?
Perjalanan ini/ Trasa sangat menyedihkan/ Sayang engkau tak duduk/ Disampingku kawan/ Banyak cerita/Yang mestinya kau saksikan/Di tanah kering bebatuan/Tubuhku terguncang/ Dihempas batu jalanan/ Hati tergetar menatap/ kering rerumputan/ Perjalanan ini pun/ Seperti jadi saksi/ Gembala kecil/ Menangis sedih .../ Kawan coba dengar apa jawabnya/ Ketika di kutanya mengapa/Bapak ibunya tlah lama mati/ Ditelan bencana tanah ini/ Sesampainya di laut/ Kukabarkan semuanya/ Kepada karang kepada ombak/ Kepada matahari/ Tetapi semua diam/ Tetapi semua bisu/Tinggal aku sendiri/ Terpaku menatap langit/ Barangkali di sana/ ada jawabnya/ Mengapa di tanahku terjadi bencana/ Mungkin Tuhan mulai bosan/ Melihat tingkah kita/ Yang selalu salah dan bangga/ dengan dosa-dosa/ Atau alam mulai enggan/ Bersahabat dengan kita/Coba kita bertanya pada/ Rumput yang bergoyang/ (Berita Kepada Kawan- Ebiet G Ade)
Berita Kepada Kawan dari Ebiet G Ade, persis menggambarkan negeri ini. 2014 dengan pesta demokrasinya merupakan saat yang tepat untuk membawa negeri ini menjadi lebih baik. Pemerintah memiliki kuasa yang cukup kuat untuk membawa Indonesia menjadi surga bagi satwa-satwa endemik kita, mempertahankan kawasan hijau yang bermanfaat bagi bumi dan manusia, dan menjadikan lingkungan yang lebih baik. Pemerintah yang baik tentu saja tidak membuat Indonesia menjadi surga bagi tangan-tangan jahil perusakan lingkungan yang berkedok pengembangan industri, perkebunan, dan pertambangan merupakan kunci kemajuan bangsa. Pemerintah yang saya harapkan adalah orang-orang bijak yang tau kapan harus mempertahankan hutan demi ekosistem yang terjaga dan kapan harus memberi izin bagi perkembangan industri untuk kemajuan negeri ini. Dan saya mengingginkan pemimpin yang tak hanya menghargai rakyat Indonesia, pemimpin yang memiliki minat dan berusaha mewujudkan kesejahteraan hewan, hutan, dan lingkungan kita.
Kebesaran suatu bangsa dan kemajuan moralnya dapat dinilai dari cara mereka memperlakukan hewannya (Mahatma Gandhi)
Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba blog #IngatLingkungan "Blogger Peduli Lingkungan


0 komentar:

Posting Komentar