Jumat, 01 November 2013

Jurnal 76, Perempuan dan Keindahan Tradisi


Anak Daro (Foto by: Febri Aziz) sumber foto: www.djisamsoe.com



 “Perempuan dan keindahan, perempuan dalam keindahan adat istiadat dan budaya tradisional”
Pada masa yang serba modern adalah hal yang biasa melihat seorang perempuan dengan  pakaian serba modern karya designer hebat.  Ketika melihat seorang perempuan dengan kemewahan pakaian tradisional, disadari atau tidak kita pasti akan tercengang. Mereka sangat luar biasa, mereka harus mampu menyangga benda berat diatas kepalanya, mereka adalah perempuan minangkabau.
Suntiang merupakan hiasan untuk kepala yang merupakan salah satu dari kelengkapan pakaian tradisional minangkabau. Suntiang yang dikenakan oleh pengantin wanita atau lebih di kenal dengan sebutan anak daro melambangkan ujian untuk mengahadapi kehidupan rumah tangga kelak. Suntiang yang dikenakan oleh anak daro pada awalnya terbuat dari emas murni dengan berat lebih dari 5 kg. Perempuan yang mengenakan suntiang di hari pernikahannya dan mampu bertahan dianggap mampu memikul beban setelah menjadi seorang isteri dan ibu.
Pernikahan kakak saya beberapa tahun silam memberi kesempatan untuk saya melihat perjuangan anak daro pada pesta pernikahannya. Sebelum mengenakkan suntiang diadakan ritual sederhana bersamaan dengan terpasangnya setiap tusuk suntiang di kepala si anak daro. Bukan hal yang mudah untuk menyangga beban seberat itu, tapi inilah kehebatan perempuan, perasaan yakin untuk bertahan menjadi seorang isteri dan seorang ibu, perempuan dalam keindahan tradisi. Perempuan dalam Potret Maha Karya Indonesia, bagian dari tradisi yang harus kita jaga dan kita lestarikan.

2 komentar:

  1. Repot ya mau nikah aja. Malemnya pasti kecapekan berat gitu... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkiiinn...
      tapi suntiang yg sekarang sudah di modifikasi jadi lebih ringan..
      Tapi kalau menurut gue jauh lebih indah yang berat kalo dipasang di kepala, mungkin karena makna juga kali yaaa...

      Hapus