Senin, 21 Oktober 2013

Jurnal 74, Ingin Menjadi Seperti Ibuku

Salah satu dosen Embriologi dan Genetika di kampus pernah bilang "Kalau mau punya anak pintar maka cari calon ibu yang pintar". Pastinya para kaum adam gak terima dong, tapi dalam ilmu embriologi, sel telur yang berperan banyak dalam perkembangan seorang manusia mengingat sel sperma hanya menyumbangkan materi genetik pada keturunannya.
Menurut saya genetika tergolong "potensi", kalau dalam ilmu matematika mungkin disebut "peluang".Lalu, faktor apa yang berperan penting dalam pribadi seorang anak? Jawabannya adalah "Lingkungan". Ketika duduk di sekolah dasar tentunya kita masih ingat mempelajari perkembangan sosialisasi seseorang, mulai dari keluarga hingga ke negara.
ibu cantik berpotensi punya anak yang cantik
ibu yang pintar anaknya berpotensi pintar
Tingkat sosial pertama yang harus dijalani seorang individu adalah keluarga. Ketika seseorang mempelajari setiap kata yang dia dengar hingga akhirnya bisa mengucapkan kata tersebut. Kata dan kalimat, mungkin terlihat sederhana tapi pelajaran tentang tata kata dan kalimatlah yang bisa membawa seseorang menjadi pemimpin yang besar.
Seorang pemimpin adalah mereka yang bisa menggunakan kalimat yang baik di setiap kondisi dan kalimat tersebut mampu membawa perubahan besar pada dunia.
Nah, kembali ke kata "pintar". Ada yang bilang untuk jadi pintar kamu gak cuma harus belajar yang rajin. Yap, saja sangat setuju dengan pernyataan ini. Dalam mata kuliah yang tadi saya sebutkan, dijelaskan pada perkembangan awal manusia dalam lahir otak lah yang pertama terbentuk. Ketika neural plate (lempeng saraf) mulai  terbentuk hingga bagian tersebut berkembang menjadi setiap otak yang sempurna  di trimester awal kehamilan. Pada periode ini lah, peran ibu sangat penting dalam menentukan setiap asupan makanan yang penting bagi pertumbuhan otak pemimpin kecilnya.
Terkadang saya berpikir apakah periode yang sering disebut "ngidam" itu adalah naluri seorang ibu untuk memberikan asupan terbaik bagi perkembangan otak anaknya. 
Tidak akan pernah cukup ruang untuk menceritakan tentang peran seorang ibu dalam membangun kepribadian anaknya. Siapa yang akan memarahi kamu ketika keceplosan berkata yang tak pantas? Siapa yang akan memelukmu ketika mengalami demam setelah kehujanan? Dan siapa yang selalu menyiapkan makanan bergizi dalam kotak bekalmu?
Seorang pemimpin bukan diciptakan secara instan, tapi mereka yang telah ditempa dan dibekali sejak masih dalam kandungan ibunya,
Semakin  beranjak dewasa sering kali kita melupakan tentang peran seorang ibu. Terinspirasi dari salah satu video adzan magrib dalam salah satu TV swasta. Ketika seorang eksekutif muda dengan pekerjaan yang menumpuk, mengesampingkan panggilan telepon dari ibu yang sangat merindukannya. Hingga akhirnya iya meninggalkan semua pekerjaan dan pulang ke rumah ibunya setelah melihat seorang anak yang mencari uang untuk membeli bunga sebagai hadiah ulang tahun ibunya yang telah dipanggil yang maha kuasa. Hanya sebuah gambaran cerita sederhana yang sesungguhnya dekat dengan kehidupan kita.
Itulah saya, seorang anak yang merindukan ibunya. Ketika dulu mama masih ada dan selalu menghubunggi saya hampir setiap saat seringkali saya mengabaikannya dan lebih memilih untuk melakukan hal lain. Terkadang tuhan memang menunjukkan pencerahan di balik musibah, ketika saya baru menyadari begitu banyak hal yang dipersiapkan oleh mama untuk saya menjadi seorang yang lebih baik dibandingkan beliau. Memang terlambat untuk menyadari hal tersebut, tapi memang itu lah hidup. Banyak pelajaran yang bisa kita petik untuk menjadi lebih baik ke depannya. Disinilah saya berada, ingin menjadi seorang ibu seperti mama yang membesarkan saya.
Ibu tidak hanya berjuang ketika melahirkan kita, mempersiapkan segala hal yang terbaik sejak kita masih dalam kandungan hingga kita mampu berdiri di kaki sendiri. Bahkan, terkadang kita masih membutuhkan peluk hangatnya di tengah badai hidup yang menghadang. Ibu juga mempersiapkan kita untuk menjadi seorang pemimpin dan mempersiapkan kita menjadi seorang ibu yang lebih baik dibandingkan dirinya, seorang ibu yang menghasilkan generasi emas yang akan memimpin bangsa ini.
Disinilah saya saat ini, ingin mempersiapkan diri menjadi seorang yang lebih baik dibandingkan ibu saya, dan merencanakan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak saya kelak.
 Saya tahu, suatu hari kelak akan menjadi seperti mama. Menantikan kehadiran si pemimpin kecil, memberikan asupan makanan terbaik bagi perkembangan otaknya, mengajarkan setiap kalimat indah untuk dia ucapkan kelak, menyiapkan bekal sehat untuk tumbuh dan berkembangnya, menegurnya ketika berbuat salah, memberikan penghargaan bagi setiap kebaikan yang dia perbuat, dan memeluknya di tengah badai kehidupan yang menerpa.
Aku ingin menjadi seperti ibuku
 Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Writing Competition "Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil"

0 komentar:

Posting Komentar