Sabtu, 31 Agustus 2013

Jurnal 64, Kopi dan Cà phê sữa đá

Sekarang ini, minum kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Hampir di seluruh penjuru kota, tidak hanya di Indonesia tetapi juga ASEAN, banyak tersebar gerai kopi. Di dunia, negara penghasil kopi terbesar adalah pertama: Brazil,  kedua: Vietnam dan ketiga adalah Indonesia. Kedua negara terakhir adalah anggota ASEAN. Menuju Komunitas ASEAN 2015 ini, mampukah Vietnam dan Indonesia merebut pangsa pasar kopi dunia? Bisakah kedua negara tersebut menjadi partner produksi kopi, bukan menjadi rival atau saling bersaing.
Sumber: http://goo.gl/AVigLI
 "Bongkar kebiasaan lama orang Indonesia"
Itulah kalimat yang digunakan sebagai tagline salah satu produk kopi di Indonesia. Kebiasaan lama orang Indonesia? Mungkin kalimat ini kurang tepat, seolah-olah dulunya orang Indonesia minum kopi kemudian terdapat rentang waktu tertentu untuk orang Indonesia berhenti minum kopi, dan kemudian setelah brand kopi ini muncul orang Indonesia kembali meminum kopi. Untuk dunia Advertising penggunaan tagline ini sangat bagus, tapi jika kita mengartikan untuk kopi di Indonesia secara keseluruhan mungkin belum tepat. Jampit dan Blawan yang berasal dari jawa (wkipedia). Kopi gayo aceh, kopi aceh, kopi sidikalang, dan kopi robusta lampung untuk kopi-kopi terbaik dari sumatera (wikipedia). Kopi Sumatera sangat terkenal dengan Mandheling atau Lintong-nya yang tumbuh di pesisir selatan pulau Sumatera, dan kopi gunung gayo yang tumbuh lebih ke barat pulau sumatera. Para ahli kopi dunia melihat ketuaan biji sebelum membeli kopi karena biji kopi ini memiliki keunikan mengeluarkan bau tanah dan rempah yang menambah cita rasa kopi. Hal ini menjadikan kopi sumatera menjadi salah satu kopi yang paling di cari di dunia.
Cà phê sữa đá adalah minuman kopi dingin yang berasal dari Vietnam, dibuat dengan cara menyeduh kopi kemudian dicampurkan es batu dan susu kental manis. Untuk membuat kopi Vietnam dibutuhkan sebuah alat penyeduh kopi yang terbuat dari baja tahan karat yang bentuknya seperti topi. Nah, ketika kopi Vietnam diminum hangat tanpa menggunakan es batu maka namanya menjadi Cà phê sữa nong (wikipedia).
Kopi Vietnam (sumber: wikipedia)
Indonesia dan Vietnam telah menduduki posisi ke-2 dan ke-3 untuk produksi kopi terbesar di dunia. Apakah dengan  adanya Komunitas Ekonomi ASEAN kelak apakah kita bisa bekerjasama untuk menjadikan Asia Tenggara khususnya Indonesia dan Vietnam nomor 1 dalam produksi kopi di dunia. Tentu saja kita bisa, asalkan saling bekerja sama dan berusaha lebih keras dalam meningkatkan produksi. Produksi kopi harus ditingkatkan dimulai dari bahan mentah. Dengan wilayah yang lebih luas dan iklim tropis yang mendukung tentunya kita bisa memproduksi lebih banyak kopi.Dan pertanyaannya apa yang harus kita lakukan??
  1. Meningkatkan produksi kopi dalam negeri
  2. Meningkatkan produksi kopi dalam negeri
  3. Meningkatkan produksi kopi dalam negeri
Itulah hal pertama dan harus terus menerus kita lakukan untuk menguasai pasar kopi dunia. Memang tidak semudah menuliskannya, tapi kenapa tidak kita lakukan. Pemerintah harus memberi peluang bagi petani maupun wirausaha yang ingin membuka peluang menjadikan kopi Indonesia yang terbaik. Setelah produksi kopi meningkat mungkin kita bisa mulai berinovasi pada produk kopi yang dipasarkan. Dengan adanya inovasi akan meningkatkan minat masyarakat terhadap kopi, seiring dengan hal ini minat untuk menjadikan kopi sebagai peluang usaha juga akan meningkat. 

Sumber: http://img.antaranews.com/new/2013/08/ori/20130809asean-members.jpg
Lalu, Mengapa kopi khas Indonesia maupun Vietnam tidak lebih populer dibandingkan Latee, Cappucino, Espresso?? Hmmm... berbicara dan menulis tentang kopi mengingatkan saya pada aroma lezat minuman ini.

0 komentar:

Posting Komentar