Kamis, 26 April 2012

Jurnal 13, Kartini

Sangat terlambat untuk menuliskan ini, dan mengingat pepatah 'lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali' saya tetap bertahan menulisnya.


'Ibu Kita Kartini' lagu pertama yang bisa saya mainkan dengan pianika, mungkin hal yang sama juga berlaku pada banyak anak-anak yang belajar memainkan pianika.

21 April adalah hari lahir dari seorang perempuan asal bangsa Indonesia yang berhasil memperjuangkan hak-hak bagi kaum perempuan. Banyak perempuan di zaman sekarang yang menganut emansipasi wanita', tapi lebih banyak lagi diantara mereka yang tidak mengerti makna dari kata emansipasi. Dan, saya termasuk golongan yang tidak benar-benar mengerti makna dari emansipasi.

Senin, 16 April 2012

Jurnal 12, Ketika Harus Memilih

Menjawab pertanyaan Titha dalam Ketika Harus Memilih, Saya ingin memilih Gale, tapi keadaan pasti membuat saya diharuskan memilih Peeta

Saya belum membaca The Hunger Games dan mungkin dalam waktu dekat trilogi ini akan melengkapi koleksi di lemari saya. Walau belum membaca dan tidak mengerti inti dari buku ini, setidaknya saya bisa menjawab pertanyaan Titha.


Apapun yang terjadi, Gale yang ada dalam kehidupan saya tidak akan pernah kembali. Saya mengenal dia seumur hidupnya dan saya pastikan kenangan tentang dia akan tetap bertahan seumur hidup saya. Saya pernah bertanya tentang kehebatan social network yang mampu mempertemukan banyak orang, tapi tak satupun yang bisa mempertemukan saya dengan dia. Jika ini terkait panjangnya waktu saya bersama dia, kenangan itu tak akan berarti apa-apa. Tapi dalam kenangan saya, dia membewa banyak perubahan dalam kehidupan saya.

Minggu, 15 April 2012

Jurnal 11, Badai Pasti Berlalu dan First Reader

Kepopuleran film The Raid merupakan sebuah langkah awal untuk revolusi industri perfilman Indonesia. Tanpa perlu dijelaskan secara detail tentang perfilman Indonesia selama ini, bukan berarti saya bilang film Indonesia jelek. Saya suka dengan banyak film Indonesia, tapi mungkin karena genre dan tema yang diangkat dalam film ini berbeda sehingga pamornya lebih dibandingkan film-film lainnya.

Bagi saya (sampai dengan hari ini) film Indonesia terbaik adalah Badai Pasti Berlalu. Hanya sebuah Film biasa dengan standar cerita Marga T, tapi bagi saya film ini luar biasa

Kamis, 12 April 2012

Jurnal 10, Unforgettable



Ini adalah satu kisah dari sang waktu tentang mereka yang menunggu. Cerita seorang perempuan yang bersembunyi di balik halaman buku dan seorang lelaki yang siluetnya membentuk mimpi di liku tidur sang perempuan.

Ditemani krat-krat berisi botol vintage wine yang berdebu, aroma rasa yang menguar dari cairan anggur di dalam gelas, derit kayu di rumah usang, dan lembar kenangan akan masa kecil di dalam ingatan.

Pertemuan pertama telah menyeret keduanya masuk ke pusaran yang tak bisa dikendalikan. Menggugah sesuatu yang telah lama terkubur oleh waktu di dalam diri perempuan itu. Membuat ia kehilangan semua kata yang ia tahu untuk mendefinisikan dan hanya menjelma satu nama: lelaki itu.

Sekali lagi, ini adalah sepotong kisah dari sang waktu tentang menunggu. Kisah mereka yang pernah hidup dalam penantian dan kemudian bertemu cinta.

Minggu, 08 April 2012

jurnal 9, The Leader



Papa saya pernah menceritakan arti dari pemimpin. Pada zaman kerajaan (saya lupa kerajaan apa) ada persaingan dalam merebut tahta. Persaingan ini terjadi antara putera permaisuri dan putera salah satu selir raja. Dan persaingan ini diakhiri ketika pangeran putera permaisuri meninggalkan istana dan menyerahkan tahta ke saudaranya sendiri. Sebelum meninggalkan istana, sang pangeran meninggalkan pesan 'Jadilah pemimpin yang baik untuk rakyatmu, jadilah seperti matahari, bulan, bumi, angin, dan air'.
Melalui cerita ini, papa menyampaikan pesan moral untuk saya dan adik saya;

Rabu, 04 April 2012

Jurnal 8, Para Pengejar Hujan + Imbisil +Firework edisi 4 April 2012

'Para Pengejar Hujan', saya tidak ingat siapa yang pertama kali mencetuskan nama itu. Akhir Desember 2011, Saya bersama Hiro, Dhany, dan Fian melakukan sebuah perjalanan panjang ke Cibodas. Niat awal ke Cibodas adalah untuk survey lokasi Pelantikan Anggota Baru Himpro SATLI yang rencananya dilaksanakan di jalur pendakian Gunung Gede- Pangranggo hingga ke Air Terjun. Kami hanya bisa tersenyum kecewa saat melihat pengumuman penutupan jalur pendakian hingga 31 Maret 2012. Untuk menguranggi rasa kecewa itu kami melakukan survey ke Bumi Perkemahan Mandalawangi yang bersebelahan dengan Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangranggo dan hasilnya..... (Saya cuma bisa bilang, '47 keenakan kalau Buper ini dijadikan lokasi pelantikan). 
Kembali ke topik semula 'Para pengejar hujan', pertama kali kalimat itu muncul saat perjalanan pulang. Kami harus melewati hujan deras dan berkabut di daerah puncak. Insting awal orang yang kehujanan adalah berteduh tapi entah kenapa kami sangat sial karena tiap kali berteduh hujan reda dan akan kembali deras saat kami kembali melanjutkan perjalanan. And then, kami memutuskan untuk mengejar hujan tanpa berteduh agar cepat tiba di warung sunda paling enak di daerah gadok.

Para Pengejar Hujan

Selasa, 03 April 2012

Jurnal 7, Kantor Pos

Saya memilih magang di Kebun Binatang Gembiraloka saat liburan akhir semester 5 lalu. Tentu saja magang di Kebun Binatang Gembiraloka bukan tujuan utama saya, tujuan  utama saya adalah 'jalan-jalan'. Hari-hari terakhir di Yogyakarta, saya ditemani oleh teman SMA jalan-jalan keliling kota. Salah satu tujuan kami adalah Kantor Pos, ketika itu yang saya ingat pesan adik kelas yang sedikit imbisil (baca: Risti) jangan lupa foto di tulisan jawa di kantor pos dan saya tidak mengikuti anjuran itu karena lebih memilih masuk ke kantor pos.

Download dari http://podjok.com/wp-content/uploads/2008/04/cimg4764-upload.jpg


Postingan ini saya tulis hanya untuk menceritakan percakapan pegawai pos dengan salah satu pelanggan dan untuk mempersingkat waktu Check this

Senin, 02 April 2012

Jurnal 6, Hobbi SMA

Laskar Origami
Saya pernah membuat 1000 burung gagak dari kertas saat kelas 2 SMA. Saya membuat 1000 burung gagak itu untuk kado ulang tahun seorang teman, tapi setelah menyelesaikannya saya tidak rela mereka menjadi milik orang lain. Saya hidup di tengah keluarga yang ber'bakat' seni, menyanyi, menari, dan menggambar tapi entah kenapa tidak ada satu diantara bakat tersebut dalam diri saya. Mungkin karena itu, nenek membelikan saya sebuah stoples cantik untuk menyimpan burung gagak saya. Nenek selalu mengamati saya melipat setiap kertas dan membentuknya menjadi sebuah burung gagak.
Selama satu bulan mengerjakan proyek ini, saku seragam saya selalu terisi dengan kertas persegi dan terkadang saya membentuk burung gagak di laci meja saat guru sedang menjelaskan pelajaran. Saat ini saya sering mempertanyakan, kekuatan apa yang mempengaruhi diri saya hingga bisa mengerjakan 1000 burung gagak kertas. Dan yang lebih bodoh lagi, saya menghitung mereka setiap satu minggu, ada secercah perasaan puas saat saya memegang burung gagak ke-1000. Saya memiliki lebih dari 1000 burung gagak, beberapa diantaranya saya jahit menjadi gorden di kamar tidur saya dan yang lainnya tersimpan manis dalam stoples kaca pemberian nenek.