Rabu, 30 Mei 2012

Jurnal 19, Saya dan Lembaran Kertas


Sejak kapan saya suka baca??
Sebenarnya membaca adalah pengalihan perhatian. Membaca sejenis therapi yang bisa menenangkan. Membaca ya membuat saya bisa berasumsi apapun terkait sebuah cerita.

Saya suka membaca cerita karena uni selalu memberi hadiah buku saat ulang tahun dan banyak buku yang selalu dipinjamkan pada saya ketika dia pulang saat liburan semester. Dan diperkenalkan pada tante dirnima saat lulus SD, dipinjamkan banyak buku tentang pertualangan anak-anak. Sangat mengidolakan Enyd Blyton. Saya pikir Enyd Blyton adalah tipe petualang dan mengajarkan anak-anak untuk berani meghadapi masalah. Saya sangat Iri pada Jack, Dick, Anne, George, dan Tim. Di usia yang sangat muda mereka telah melalui banyak pertualangan dan banyak pelajaran hidup yang menjadikan manusia yang lebih baik.

Ketika memasuki masa putih biru, saya bertemu seorang guru bahasa indonesia yang sangat luar biasa. Beliau yang menunjukkan pada saya betapa hebatnya karya-karya penulis Indonesia di zaman Balai Pustaka. Banyak orang berpendapat Balai Pustaka membosankan, tapi setelah menghabiskan banyak waktu bersama bu Riani di perpustakaan sekolah saat SMP saya menyadari semua karya yang diterbitkan pada dekade kedua dari abad ke-20 patut  dilestarikan. Karya-karya itu menyimpan budaya, tradisi, dan cerminan masyarakat Indonesia yang sesungguhnya. Karena ketertarikan saya pada genre ini, saya dianggap manusia jadul saat bimbel persiapan SNMPTN.

Masih dengan seragam yang sama (putih biru), saya diperkenalkan pada kisah fantasi terbaik sepanjang dekade 2000 "Harry Potter". Berawal dari kecemburuan terhadap teman baik saya yang lebih sering bermain dengan teman lain karena saya gak nyambung diajak ngobrol tentang Harry Potter. Akhirnya selama sebulan penuh saya meminjam seri Harry Potter 1-3 dan Film Harry Potter 1-2. Dan berawal karena cemburu saya menjadi maniak Harry Potter. Balapan waktu baca dan diantara 7 serri Harry Potter saya menang di serri terakhir dengan rekor tercepat 36 jam.  Balapan waktu baca adalah pertarungan antara saya dan dua sahabat saya (Iwan dan Hebbi),

Zaman putih abu-abu, saya termasuk manusia ababil. Di masa ini, tidak ada hal yang terlalu spesial karena saya seperti remaja pada umumnya, senang membaca teenlit. Setelah membaca kembali beberapa cerita yang dulu saya anggap sangat bagus, saya hanya benggong dan sulit percaya. Saat duduk di kelas 2, saya kembali menjalankan hobbi lama saat SMP, membuat cerita di halaman belakang buku catatan pelajaran. Dan lembaran-lembaran itu saat ini tersimpan rapi dalam salah satu map dalam lemari di kamar kost saya. Walaupun saat ini saya beranggapan tulisan itu sangat  jelek, berantakan, asal, dan sangat subjektif, tapi saya sangat menghargai dan berterima kasih pada Feby yang menuliskan catatan-catatan itu. Dengan berbekal lembaran-lembaran itu, saya mulai mengenali diri saya, cara saya menulis, dan memperbaiki beberapa point. Tulisan saya memang belum sempurna dan masih kalah dibandingkan tulisan-tulisan yang berjejer di rak toko buku, tapi jika dibandingkan tulisan-tulisan pada lembaran itu, saya yakin bahwa saya mengalami banyak kemajuan dan akan menjadi lebih baik lagi jika saya banyak belajar dan menggali banyak hal dari kekurangan yang ada pada diri saya, serta belajar dari tulisan-tulisan yang saya baca.

Di universitas saya menggabungkan semua genre yang saya baca saat SD, SMP, dan SMA. Bagian yang paling saya suka dari kehidupan asrama adalah Luccy (201). Maniak buku yang selalu bertukar buku dengan saya. Luccy membaca semua genre dan dia akan menceritakan sebuah buku secara detail. 

Jujur saja, saya binggung untuk menceritakan buku dan genre favorite saat ini. Saya menyukai semua buku:
  • Saya membaca buku best seller dunia karya Stephanie Meyer dan merasa sangat beruntung sempat bertemu dengan starter yang membawa buku ini ke Indonesia, seorang wanita yang ngotot pada petinggi-petinggi PT. Gramedia untuk menerbitkan seri yang pada waktu itu belum punya nama. (Kalau boleh jujur, sebuah buku yang saat itu masih dalam khayalan, karena Edward si vampire tampan hanya ada dalam imajinasi dan langsung meledak saat vampire ini muncul dalam wujud nyata dalam diri Robert Pattinson)
  • Setelah membaca dan menjadi maniak Twilight Saga, saat ini saya sangat tertarik pada genre terkait vampire, sihir, dan sejenisnya. Dan seri yang mampu memindahkan Twilight Saga dari urutan teratas adalah Vampire Academy. Ya, sosok Dimitri yang lebih nyata ataupun moroi keren yang sangat tulus model Adrian, dan Rose cewek simple, mempesona, tapi punya pendirian teguh.
  • Winna Efendi, penulis Indonesia favorite saya. Mbak Winna adalah penulis di zaman modern tapi gaya penulisannya mengingatkan saya pada penulis-penulis masa lampau dan mbak winna sangat kreatif dalam memilih gaya baru untuk menulis.
 Judul dari postingan ini adalah 'Saya dan lembaran kertas' dan setelah sampai disini, saya harus mengakhiri postingan ini dari pada hasil tulisan saya semakin jauh dari judul yang dimaksud

0 komentar:

Posting Komentar