Minggu, 08 April 2012

jurnal 9, The Leader



Papa saya pernah menceritakan arti dari pemimpin. Pada zaman kerajaan (saya lupa kerajaan apa) ada persaingan dalam merebut tahta. Persaingan ini terjadi antara putera permaisuri dan putera salah satu selir raja. Dan persaingan ini diakhiri ketika pangeran putera permaisuri meninggalkan istana dan menyerahkan tahta ke saudaranya sendiri. Sebelum meninggalkan istana, sang pangeran meninggalkan pesan 'Jadilah pemimpin yang baik untuk rakyatmu, jadilah seperti matahari, bulan, bumi, angin, dan air'.
Melalui cerita ini, papa menyampaikan pesan moral untuk saya dan adik saya;
  • Pemimpin yang seperti matahari; Berkilau, bercahaya, dan cemerlang diantara banyak pemimpin lainnya. Mampu menyinari dan menghangatkan seluruh rakyatnya.
  • Pemimpin yang seperti bulan; Meneranggi, ada ketika rakyatnya terdampar ditengah kegelapan malam dan membawa mereka keluar dari tiap kegelapan.
  • Pemimpin yang seperti bumi; pemimpin yang menyatu dengan seluruh rakyatnya
  • Pemimpin yang seperti angin; menyebar diantara orang-orang yang dipimpin.
  • Pemimpin yang seperti air; Menyejukkan dan mampu meringankan setiap beban yang menimpa orang-orang disekelilingnya.
It's a perfect leader. Tidak ada manusia yang sempuurna di dunia ini, tapi tetap saja sebagai manusia kita harus berusaha menjadi yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain. Hingga saat ini, saya baru dua kali dipercaya menjadi pemimpin dan salah satunya bisa dikatakan gagal total. 
Beberapa waktu terakhir, salah satu teman saya yang sedang menjabat sebagai ketua Lembaga Kemahasiswaan di Fakultas sering menceritakan tentang keluh kesah selama menjadi pemimpin. Yang bisa saya katakan hanya 'Gak akan mungkin kita disukai oleh semua orang karena jumlah orang yang menyukai kita sama besarnya dengan yang membenci'. Dan disaat yang sama saya dan beberapa teman terlalu sering mengeluh tentang seorang pemimpin. Mungkin setiap keluh kesah ini hanya pandangan subjektif semata, tapi bagi saya (pribadi) hal ini sangat menganggu zona nyaman saya.

Kenapa menulis artikel ini? karena saya ingin

0 komentar:

Posting Komentar