Rabu, 04 April 2012

Jurnal 8, Para Pengejar Hujan + Imbisil +Firework edisi 4 April 2012

'Para Pengejar Hujan', saya tidak ingat siapa yang pertama kali mencetuskan nama itu. Akhir Desember 2011, Saya bersama Hiro, Dhany, dan Fian melakukan sebuah perjalanan panjang ke Cibodas. Niat awal ke Cibodas adalah untuk survey lokasi Pelantikan Anggota Baru Himpro SATLI yang rencananya dilaksanakan di jalur pendakian Gunung Gede- Pangranggo hingga ke Air Terjun. Kami hanya bisa tersenyum kecewa saat melihat pengumuman penutupan jalur pendakian hingga 31 Maret 2012. Untuk menguranggi rasa kecewa itu kami melakukan survey ke Bumi Perkemahan Mandalawangi yang bersebelahan dengan Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangranggo dan hasilnya..... (Saya cuma bisa bilang, '47 keenakan kalau Buper ini dijadikan lokasi pelantikan). 
Kembali ke topik semula 'Para pengejar hujan', pertama kali kalimat itu muncul saat perjalanan pulang. Kami harus melewati hujan deras dan berkabut di daerah puncak. Insting awal orang yang kehujanan adalah berteduh tapi entah kenapa kami sangat sial karena tiap kali berteduh hujan reda dan akan kembali deras saat kami kembali melanjutkan perjalanan. And then, kami memutuskan untuk mengejar hujan tanpa berteduh agar cepat tiba di warung sunda paling enak di daerah gadok.

Para Pengejar Hujan

Saya kembali diingatkan pada kejadian ini, karena tadi sore 3 anggota pengejar hujan (kecuali Fian) lagi-lagi harus mengejar hujan. Lokasi mengejar hujan kali ini lebih aman dibandingkan sebelumnya, tapi mengejar hujan hari ini lebih kompleks dari sebelumnya.
  • Pagi hari anak angkatan 46 galau ujian Farmakologi 2 (Mengingat prestasi di Farmakologi 1) dan angkatan 47 galau ujian Anatomi Veteriner (Mata kuliah yang berbahaya bagi penderita Hellenologophobia ).
  • Menjadi lebih tenang setelah selesai ujian Farmakologi 2 yang sangat bersahabat dan dilanjutkan dengan curahan hati trias ke Nadine.
  • Menantikan jam makan siang dan bergegas ke Cafe Ungu lewat pintu samping dan jujur saja yang ingin saya (mungkin Dhani juga) lakukan adalah lompat dan berteriak, dan kalau bisa memeluk ibu pembina Himpro kita yang jarang ada di kampus.
  • Galau (lagi) ketika melihat proposal seminar yang belum ditanda tangani oleh ketua himpro dan atas bantuan Risti yang menyeret ketua himpro yang sedang tidur siang (+ sedikit ancaman).
  • 1 set proposal dengan seabrek halaman pengesahan selesai ditanda tangani dan saya bersama Hiro dan Dhani langsung turun ke Nays untuk makan enak (Nasi ala bento yang hanya ada di hari rabu).
Kemarin, Hiro dan Dhani merencanakan untuk berangkat ke YABI untuk mendiskusikan tentang Seminar Nasional. Dan akhirnya, kami berangkat ber-4 ditambah Cocom yang datang di saat yang tepat dan memperoleh sedikit keberuntungan dengan banyak kesialan setelah itu. Pertualangan Pengejar Hujan kali ini dimulai dari fotocopy FKH IPB.
  • Sebelum berangkat ke YABI ada baiknya proposal diperbanyak. Hampir 30 menit berada di fotocopy dengan saya yang dijadikan bahan olok-olokan kami baru menyadari kalau dari tadi hanya mengantri di fotocopi tanpa ada konfirmasi jasa apa yang kami inginkan dari mas di fotocopy.
  • Bersiap berangkat ke YABI dengan meminjam motor Bg Galuh, dan kami membutuhkan waktu hampir 30 menit (lagi) untuk me-starter motor itu dan dengan bantuan Mas Rudi motor lansung menyala dalam waktu kurang 1 menit.
  • Hujan turun dan semakin deras saat memasuki jalan baru dan kami berhenti di depan Giant untuk mengenakkan jas hujan. Atasan jas hujan di pakai Dhani yang mengenakkan kemeja putih dan bawahan oleh Cocom yang memakai jeans yang baru di cuci.
  • Sampai di YABI dan diskusi berjalan lancar hingga kami ditunjukkan kalender bulan Mei 2012. 
  • Kembali ke Dramaga dan mampir di Mie Ayam di pinggiran jalan pandawa raya untuk membicarakan kekacauan akibat kalender bulan Mei 2012.
  • Keserempet motor dan Cocom harus mendorong motor buat nyebrang. Telepon Hiro dan Dhani yang udah jalan duluan buat balik dan nyalain motor lagi.
  • Balik ke Dramaga dan ternyata ada yang ketinggalan, bikin heboh di Bengkel dan ke Gugel dengan solusi yang saya anggap cerdas tapi terlihat sangat bodoh.
Dan hari ini diakhiri dengan -----> saya yang binggung mengartikan tulisan ini, binggung memikirkan sinkronisasi antara judul dan isi.

Kesimpulannya dari kejadian dan kehujanan hari ini: Dua ekor kerbau gak cukup untuk mengeluarkan ikan dan kepiting dari air, apalagi kerbau yang suka berendam di kubangan dengan shio ayam (Hiro, 2012)

0 komentar:

Posting Komentar