Sabtu, 26 November 2011

Impian Vs Mimpi

“Menjadi orang pertama yang menginjakkan kakinya di puncak Everest adalah impian anda, tugas saya hanyalah membantu anda untuk mencapainya”, Tenzing menatap lurus kepada Edmund “Diberi kesempatan untuk bisa membantu mewujudkan impian anda, merupakan kebanggaan dan kebahagiaan besar bagi saya”. Setetes air mata haru yang penuh dengan ketulusan jatuh di pipi Tenzing, tangannya pun terulur menjabat tangan Edmund “Selamat”
(dikutip dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=269217211610)

Aku sangat terharu setelah membaca kalimat ini dan akhirnya aku mengutip kalimat ini dan menulisnya di notes facebookku..

Hal yang tersirat di benakku saat ini adalah...
  • Semua orang mempunyai mimpi, mimpi yang begitu indah, begitu jauh, dan bahkan terkadang sangat liar hingga begitu sulit untuk mewujudkannya.
  • Tidak banyak orang yang bermimpi untuk membantu orang lain untuk mewujudkan mimpinya, bahkan aku tidak pernah sekalipun berpikir demikian.
  • Berpikir dunia akan menjadi lebih indah ketika kita berusaha membantu orang lain mewujudkan mimpinya. walaupun terkadang kita seperti ngojek mimpi orang lain.
  • Dan, suatu hari akan ada seorang yang akan mengulurkan tangannya untuk membantu kita mewujudkan mimpinya.
  • Mari menjadi Tenzing berikutnya dengan membantu Edmund mewujudkan mimpinya hingga ke puncak tertinggi, titik terjauh, dan samudera terdalam..
Hal konyol yang aku pikirkan adalah....
  • Kalau tenzing tidak berjiwa besar dalam membantu edmund, mungkin saja puncak tertinggi di dunia 8850mdpl akan diberi nama Mount Tenzing bukan Mount Everest
  • Edmund akan merasa sangat sedih karena dia tertinggal hanya satu langkah dari impiannya untuk menempelkan jejak manusia pertama di puncak tertinggi dunia..
“Jika menjadi orang kedua yang mencapai puncak adalah sesuatu yang memalukan, maka biarlah saya hidup dengan perasaan malu itu” kalimat yang menunjunkkan kebesaran hati Tenzing saat diwawancarai pers setelah pendakiannya.

0 komentar:

Posting Komentar