Sabtu, 26 November 2011

Continue Of -6-

“Berpikirlah secara jernih, Jen!” nasehat tante Rossa terngiang di telingaku sepanjang perjalanan ke kontrakan Reno.
Aku harus menanyakan semua hal yang menimpa Jaime pada Reno dan Zlatan, jari telunjukku bergerak untuk memencet tombol bel di depan pintu namun ku urungkan niatku ketika mendengar namaku di sebut-sebut sebagai topik utama pembicaraan orang yang berada di balik pintu ini, Reno dan Zlatan.
“Kita akan bersaing secara sehat.” ujar Reno memutuskan “Gue nggak mau persahabatan kita hancur hanya karena masalah ini.” lanjutnya bijaksana.
Aku menggeser perlahan pintu yang setengah terbuka itu dan memasuki ruangan itu tanpa menimbulkan suara yang dapat memecahkan kesunyian antara Reno dan Zlatan. Zlatan tampak mempertimbangkan usulan Reno dan beberapa saat kemudian dia angkat bicara “Gue setuju, Jenny sendiri yang akan memilih.” ujarnya tanpa mengalihkan pandanganya “Gue atau Loe?” tegasnya kemudian.
Aku tersenyum kecil saat memperhatikan pembicaraan antara dua sahabat ini, dua orang yang tak akan terpisahkan karena telah terikat oleh benang abstrak persaudaraan akibat kegelapan masa lalu. Zlatan dengan keberanianya mampu mengajak Reno untuk melangkah ke depan dan dengan ketulusan hatinya Reno mampu melunakkan hati Zlatan.
Tante Rossa benar dengan berpikir jernih aku mampu menyikapi masalah ini dengan baik, aku memperhatikan dua sosok itu lebih teliti ‘Siapa yang akan ku pilih jika mereka berdua memaksaku untuk memilih?’ sebelum aku menemukan jawaban atas pertanyaan itu, mataku terhenti pada satu titik dan seluruh anggota tubuhku menghianati keinginanku dan bergerak semakin dekat dengan titik itu, aku tak kuasa menahan haru, kedua tanganku memeluk erat tubuh itu, dan air mataku mengalir membasahi kemeja yang di kenakanya, indra pendengaranku masih berfungsi dengan benar ketika langkah kaki pelan semakin menjauh sebelum aku mampu berucap.
“Jaime!” bisikku lirih, tubuh itu menegang dalam pelukanku dan dengan kedua tanganya, ia melepaskan kedua lenganku dan berbalik ke arahku.
“Gue marah sama loe kak.” ujar Jaime cemberut, masih seperti empat belas tahun yang lalu namun raut kecewa itu tidak terlihat di wajah adikku yang berusia enam tahun, raut wajah itu tergambar dengan jelas di wajah Zlatan.
Aku melotinya tidak percaya “Kenapa tante Rossa yang lebih dulu mengenali gue? Kenapa bukan loe, kak?” protesnya lagi.
“Karena gue benci loe, Jaime.” sekarang giliran mata ini yang menghianatiku “Kenapa nggak loe katakan dari dulu, gue capek karena terus nyari loe, gue hampir putus asa ketika mendengar Jaime telah mati.” lanjutku dengan cepat dan kembali memeluk adiku.
“Pacar loe nggak pernah cerita tentang riwayat kesehatan gue?” candanya sambil membelai rambutku “Gue gak ingat semuanya.” lanjutnya kaku lalu melepaskanku “Gue jadi ingat semuanya ketika loe menemani gue sore itu.” aku tidak memerlukan penjelasan atas semua ini, pertanyaan yang tadi sempat ku tanyakan pada diriku sendiri telah menemukan jawabanya, bahkan sebelum aku melihat bercak hitam di balik leher Zlatan.
“Reno?” mataku berpendar menggelilinggi ruangan ini untuk menemukanya.
“Berhasil!” teriak Zlatan penuh kemenangan, aku melototinya meminta penjelasan, dan dia hanya tersenyum dari sudut bibirnya.
“Kalau pacaran sama temen adiknya, loe gak rugi sist.” canda Jaime, menghilangkan kesunyian dalam perjalanan mencari Reno “Gue pasti tau, Reno akan pergi kemana ketika suasana hatinya lagi kacau.” lanjut Zlatan.
‘Aku binggung harus memanggilnya Zlatan atau Jaime?’ aku tersenyum mengingat pertanyaan itu.
“Setelah urusan gue dan Reno selesai, tunggu kami di rumah.” perintahku pada mereka -Jaime dan Zlatan- yang hidup pada satu tubuh, ketika dia mengantarkanku tepat di depan panti asuhan tempatnya dibesarkan.
“Itu dia pacar loe, kak!” Dia menunjuk ke arah Reno di kursi taman menatap kosong pada anak-anak yang sedang bermain “Gue pergi dulu deh.” ujarnya berjalan menjauh dariku “Cepetan ya! Ntar gue bosan nungguin kalian.” lanjutnya setengah berteriak .
“Boleh aku duduk?” tanyaku padanya, Reno mengalihkan pandanganya padaku lalu mengangguk.
“Masa anak-anak begitu menyenangkan, nggak ada beban yang harus di tanggung oleh punggung kecil itu.” aku angkat bicara karena Reno sepertinya tidak ingin bicara.
“Nggak semua anak-anak dapat merasakan hal itu, sebagian dari mereka harus menanggung beban hidup yang berat.” jawabnya singkat.
“Maaf. .”
“Nggak perlu, Zlatan itu sahabatku dan aku sangat menghargai apapun pilihanmu.” sela Reno, aku memandangnya penuh tanda tanya “Aku tidak akan marah atas pilihanmu, Jen.” lanjutnya menjawab keherananku tadi.
Aku tertawa cukup keras sehingga menarik perhatian anak-anak yang sedang bermain “Maaf, karena aku telah membebani hidupmu selama ini dengan menjaga adikku.” ucapku dengan jelas.
“Apa maksud mu, Jen?”
“Zlatan adalah Jaime.” Reno memandangku tak percaya, dia menggeleng perlahan lalu tersenyum penuh arti ketika aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
“Kenapa aku tidak pernah memikirkan hal ini, aku tau kalau Zlatan tidak ingat siapa dirinya tapi aku tidak pernah menghubungkan semua kenyataan ini.” kalimat itu di ucapkan dengan sangat cepat oleh Reno, dari cara dia mengucapkanya terlihat jelas bahwa dia begitu bahagia atas semua kenyataan ini.
“Dia mengerjai kita, Ren.” aku mengangkat kepalaku dan memandang Reno.
“Dia sudah ingat siapa dirinya ketika kamu menemukan lukisan itu, ketika aku keluar mencarimu dia melukis gambar mama dan papa di halaman paling belakang buku itu, lalu ketika melihat kemarahanmu dia merahasiakan hal itu, dan kemarin dia begitu bersemangat karena ingin tau siapa yang menipuku dengan datang sebagai Jaime palsu.” jelasku pada Reno yang masih di hinggapi rasa heran.
“Bagaimana kamu tau kalau dia adalah Jaime?”
“Tante Rossa sudah mengetahui hal itu ketika Zlatan berdiri di samping Alan dan mereka telah membicarakan hal ini lalu tante Rossa memintaku untuk menemui kalian, dan aku baru hari ini memperhatikanya secara detail dengan bercak hitam di tengkuknya tanpa tes DNA pun aku sudah tau siapa dia sebenarnya?” tanpa ku sadari kami telah bicara sangat lama dan awan-awan kelabu pun telah menggantikan awan-awan seputih kapas di langit, dalam seketika hujan turun dengan sangat deras.
“Kita harus segera pulang, Jen!” ajak Reno bersamaan dengan suara petir yang mulai mengelegar.
Zlatan menggigil kedinginan memeluk gulingnya, dia sangat ketakutan, satu hal yang tak pernah berubah darinya adalah phobianya terhadap petir. Aku bergerak cepat ke sisinya dan menarik adikku dalam pelukanku.
“Gue takut kak!” kalimat itu diucapkanya dengan terbata-bata.
“Nggak apa-apa gue ada disini.” Jaime tidak berpindah dari posisinya, dia tetap meringkuk dibawah lenganku.
“Ren, loe ceburu karena gue di peluk cewek loe atau karena gue di peluk kakak gue?” tanya Zlatan tiba-tiba pada Reno yang tak beranjak dari posisinya “Harusnya loe senang brother, karena loe gak akan kehilangan gue atau Jenny.” lanjutnya tersenyum lalu mengulurkan kedua tangannya pada Reno, meminta Reno untuk bergabung.
“Ren, maaf karena gue udah ngerepotin loe selama ini.” Zlatan kembali membuka pembicaraan.
“Tan, harusnya gue yang terima kasih karena loe udah bawa gue pergi dari tempat itu, kalau bukan karena loe gue gak berani pergi.” jawab Reno tanpa dapat mencegah air mata mengalir di pipinya.
“What happen, boy?” candaku, nada bicaraku sangat kontras dengan suasana haru yang terjadi antara Reno dan Zlatan.
“Loe diam aja deh kak! Gue cuma mau ngomong sama dia.” bentak Zlatan sambil tersenyum untuk menunjukkan bentakan itu hanya fiktif.
“Apa gue boleh memohon satu hal lagi sama loe?” pinta Zlatan kembali serius.
“Of course!” jawab Reno tertawa, sepertinya Reno merasakan ketidaknyamanan seperti yang ku rasakan atas sikap Zlatan yang sangat formal.
Aku dapat merasakan suhu tubuh Zlatan semakin meninggi dari sentuhan kulitnya “Tolong jaga kakak gue karena gue gak pernah bisa menjadi adik laki-laki seperti yang dia harapkan.” jelas Zlatan menatap tajam ke dalam mata Reno.
“Jaime?” suaraku terdengar sangat lirih dalam telingaku.
“Happy birthday, kak!” suara Zlatan semakin lirih “Gue gak mau liat loe nangis, jangan nangis lagi ya!” pintanya sambil menghapus air mata ku dengan jempolnya.
“Senyum dong!” perintahnya “Gue mau tidur dulu ya!” lanjutnya setelah aku tersenyum dengan senyum yang dipaksakan, ku belai rambutnya dan ku nyanyikan lagu nina bobo yang biasa ku nyanyikan ketika kami menunggu mama dan papa pulang ke rumah.
“Ren, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku pada Reno tanpa melepaskan pandanganku dari Jaime yang tertidur di pangkuanku, napasnya teratur dan berirama.
“Benturan di kepalanya tidak lebih baik di bandingkan anak itu, tapi dia lebih kuat hingga dapat bertemu denganmu hari ini.” jelas Reno ikut memandanggi wajah Jaime yang menjadi lebih tenang, tempo pada irama nafasnya semakin lambat, dan tubuhnya berubah menjadi semakin dingin.
“Jangan menangis, Jen!” perintah Reno terisak ketika irama nafas itu terhenti “Dia sangat kuat untuk bertahan sampai hari ini, dia begitu gigih dalam mengembalikan ingatanya dan menemukanmu.” lanjut Reno berusaha menenangkanku.
Aku memandanggi wajah itu, aku tidak menangis bahkan aku juga tidak terisak, aku telah memenuhi permintaanya untuk tidak mengeluarkan air mata.
“Aku bangga padamu, Jaime!” ucapku lirih “Aku tak akan menyalahkan takdir yang tidak memberiku lebih banyak waktu untuk bersamamu karena takdir juga yang telah memberimu kekuatan untuk datang padaku hari ini, takdir juga memberiku kesempatan untuk berada di sampingmu hingga hembusan nafas terakhirmu, Zlatan.” lanjutku tersenyum di balik kepedihan yang ku rasakan.
***
Seminggu telah berlalu sejak kepergian Zlatan, hari yang sama dengan kepergian Jaime adikku.
“Aku menemukan ini.” Reno menyerahkan sebuah kotak berukuran satu setengah meter persegi padaku “Kado ulang tahun darinya.” lanjut Reno berusaha tersenyum.
Aku merobek kertas yang membungkus kotak itu dan menemukan sebuah kanvas yang telah di lukis dengan cat minyak, aku berdiri di sebelah kanan Reno dan Zlatan ada di sebelah kiriku semakin menjauh, lukisan ini terlihat hidup “Dia sangat berbakat.” hanya itu yang dapat ku katakan dan Reno mengangguk menyetujui pendapatku.

0 komentar:

Posting Komentar