Sabtu, 26 November 2011

Continue Of -5-

Beberapa menit lagi Jaime akan bergabung bersama kami, bersama aku, Reno, Zlatan dan tante Rossa. Jaime akan hadir kembali dalam hidupku, perasaan bahagia yang ku rasakan hari ini membuatku tak dapat berpikir dengan benar, aku pun dengan mudah mengabaikan kecanggungan yang terjadi antara Reno dan Zlatan setelah peristiwa kemarin.
“Masih lama Jen?” tanya Reno tak sabaran.
“Ntar lagi.” jawabku sambil melihat jam tangan.
“Sepertinya itu mereka!” ujarku setelah melihat dua laki-laki bertubuh atletis memasuki restoran, mereka menuju meja informasi dan petugas informasi mengantarkan mereka ke meja kami.
Reno memperhatikan kedua orang itu penuh rasa ingin tau “Bary!” ucapnya lirih dengan raut wajah penuh kebencian, aku belum pernah melihat Reno dikuasai amarah dan Zlatan yang sejak awal hanya acuh tak acuh menjadi terfokus pada dua laki-laki yang semakin dekat dengan meja kami.
“Kenalkan saya Bary dan ini Jaime adik anda.” pria bernama Bary itu memperkenalkan dirinya dan Jaime adikku sebelum aku sempat meminta mereka untuk duduk.
“Saya Jenny.” demi kesopanan aku berdiri untuk memperkenalkan diriku lalu berjabat tangan dengan Bary dan Jaime, adikku “Kenalkan ini Tante Rosa, Reno, dan Zlatan.”lanjutku memperkenalkan mereka.
“Aku tidak pernah berharap akan bertemu lagi denganmu Bary.” ujar Reno sinis “Dan kau juga Alan.” lanjutnya kemudian.
“Apa maksud semua ini, Ren?” aku meminta penjelasan Reno atas pernyataanya.
“Jawabanya sudah di depan mata Jenny.” Zlatan berjalan ke arah Bary lalu mendekat ke arah Jaime “Dia bukan Jaime!” tegasnya setelah berdiri tepat di sebelah Jaime.
Bary dan Alan hanya diam, aku tidak dapat membaca perubahan raut wajah kedua laki-laki itu setelah menyadari kehadiran Reno dan Zlatan, mereka berdiri mematung tak beranjak dari posisinya.
“Baik lah!” Reno angkat bicara setelah suasana menjadi sunyi dalam waktu yang lama “Bary adalah orang yang telah menculik aku dan Zlatan, serta dua bocah laki-laki lainya malam itu. Satu diantara anak laki-laki itu adalah anak tukang kebun di rumah ku dan yang satunya lagi meninggal dunia karena benturan di kepala yang begitu kuat.” mata Reno menerawang jauh ke masa lalunya yang kelam, sebuah kisah sebelum ia dan Zlatan tinggal di panti asuhan, sebuah kisah yang enggan di ceritakanya padaku.
“Reno?” ucapku lirih “Apa maksud semua ini? Aku binggung.” lanjutku menatap ke empat pria di hadapanku secara bergantian.
“Anak tukang kebun di rumah ku adalah Dia.” kata Reno penuh amarah dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Alan, orang yang mengaku sebagai adikku.
“Tuan Bary!” Zlatan kini berjalan pelan ke arahnya “Jadi apa yang anda harapkan dari Jaime palsu ini?”
“Aku tidak berharap apapun, aku hanya ingin membantu Jeny.” akhirnya Bary berbicara, atau tepatnya beralasan.
“Aku rasa, anda tidak mungkin lupa dia adalah Alan?” balas Reno.
“Aku hanya merasa bersalah atas kematian Jaime, jadi menurutku tak ada salahnya jika Jeny memiliki adik yang dia anggap adalah Jaime.” Bary mengucapkan setiap kalimat itu dengan sangat cepat, kakiku tak sanggup lagi menopang berat tubuhku. Bagaimana bisa hari yang seharusnya menjadi hari perjumpaanku dengan adikku berubah menjadi hari yang begitu kelam dalam hidupku “Nggak mungkin.” hanya kata itu yang dapat ku ucapkan.
Aku menopangkan kepalaku di bahu Reno yang telah berada di dekatku, suara Zlatan terdengar samar oleh ku “Tentu saja itu salah tuan, karena jika anda ingin membantunya tak seharusnya anda menculik Jaime.” tante Rossa yang tadinya ada di sampingku beranjak dari sisi ku dan menenangkan Zlatan yang dikuasai amarah.
“Sebaiknya anda pergi, saya rasa anda tidak ingin kami memperkarakan semua ini ke pengadilan bukan?”
“Tante!” protes Zlatan.
“Sudahlah Zlatan, masih banyak hal lain yang harus kita selesaikan.” ujar tante Rossa menenangkan Zlatan dan mengisyaratkan kedua penipu itu untuk pergi.
“Apa rencana tante selanjutnya?” tanya Zlatan setelah kedua orang itu menjauh.
“Tante ingin bicara dengan kalian berdua.” jawab tante Rossa tenang namun mengejutkan bagi Zlatan dan Reno “Sebaiknya kita pulang dulu, Jen kelihatanya sangat kelelahan hari ini.”
***
Kepalaku terasa begitu berat dan pandangan ku begitu gelap, aku ingin keluar dari kegelapan ini tapi aku tidak dapat bergerak untuk mencari jalan keluar dari kegelapan ini. setelah sekian lama berusaha, belaian lembut mulai dapat dirasakan oleh tanganku dan samar-samar terdengar seseorang memanggil namaku, aku berusaha untuk membuka mataku dan secercah cahaya sedikit demi sedikit masuk ke mataku.
“Ren!”
“Iya, Jen.” Jawabnya lembut dan menatap lansung ke mataku.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Ren?” aku berusaha untuk duduk namun di cegah oleh Reno “Apa benar Jaime sudah meninggal?” tanyaku.
“Reno, tolong jawab aku!” Reno tidak menanggapi pertanyaanku, dia seolah merasa bersalah atas kematian Jaime, dan aku terus mendesaknya untuk menperoleh jawaban atas pertanyaanku selama empat belas tahun terakhir.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku, Reno.” diamnya Reno ku anggap sebagai jawaban ‘iya’ atas pertanyaan ku, aku terisak dan Reno menarikku ke dalam pelukannya.
“Maaf, Jen!” ucapnya lirih dan dapat kurasakan air matanya menetes ke rambutku “Malam itu aku sangat kebingungan dan aku juga tidak tau bagaimana cara menyelamatkan anak itu.” ujar Reno terbata-bata “Maaf karena aku tidak bisa melakukan yang terbaik untuk Jaime.”
Penjelasan Reno sedikitpun tidak membuatku lebih tenang, tangisanku semakin histeris setelah mengetahui semuanya “Jaime.” bisikku lirih.
“Benturan di kepalanya sangat keras dan dia sangat kesakitan malam itu.” ujar Reno kembali menceritakan kejadian malam itu.
“Kenapa nggak cerita dari dulu, Ren!” protesku
“Karena kami tidak pernah mengenal anak itu, dia telah meninggal sebelum menjelaskan semua yang telah menimpa dirinya.” jawab Reno lalu menatap ke dalam mataku.
“Ren, sebaiknya kamu pulang dulu” Tante Rossa masuk ke kamarku lalu duduk di salah satu sisi tempat tidurku “Biarkan Jeny menenangkan pikirannya dulu.”
“Baiklah tante.” jawab Reno lalu beranjak dari duduknya “Aku pulang dulu ya Jen.” pamitnya padaku.
“Tenang lah Jen, semua akan baik-baik saja.” ujar tante Rossa setelah Reno pergi, tante Rossa berusaha untuk membuatku tenang.
“Tapi, Jaime sudah pergi tante.”
“Semua akan baik-baik saja, jadi pejamkanlah mata mu untuk malam ini.” nasehat tante Rossa atau lebih tepatnya memerintahkan ku untuk tidur.
Tante Rossa bernyanyi kecil sambil mengelus rambutku dan dalam sekejap aku pun masuk ke alam mimpi.

0 komentar:

Posting Komentar