Sabtu, 26 November 2011

Continue Of -1-

Di balik sebuah jendela kaca, aku menatap butiran-butiran air yang turun dari langit. Pohon-pohon serta rumput-rumput nan hijau tersenyum bahagia ketika butiran-butiran air itu membasahi tubuhnya. Hembusan nafasku mengaburkan kaca itu, aku bergidik takut saat kilatan cahaya membentuk garis zig-zag tepat di hadapan ku, secara spontan kedua tanganku menutupi kedua telingaku untuk menghindari suara petir yang menggelegar itu. 14 tahun yang lalu, Volume televisi di ruang keluarga sungguh memekakkan telinga, suara dari benda kotak itu seolah menandinggi gemuruh air dan petir dari luar sana. “Terjadi sebuah kecelakaan mobil di tengah kemacetan jalan tol. . .” aku tidak mengubris ucapan perempuan cantik yang ada di balik layar kaca, Jaime adik laki-laki ku meringkuk kedinginan dalam dekapanku. “Mama masih belum pulang ya kak?” hampir setiap selang sepuluh menit dia menanyakan ibuku. “Sebentar lagi, Jaime! Di luar sana masih hujan deras.” jawabku menenangkan adikku. Aku sama cemasnya dengan Jaime yang berusia pertengahan 6 tahun, pikiranku di penuhi dengan berbagai kejadian buruk tapi kusembunyikan segala hal itu dari adikku. Ayah dan Ibuku tidak kembali sampai jam di ruangan ini berdentang sebelas kali ‘kemana mereka?’ pikir ku. Tok. . . Tok. . . Terdengar suara ketukan dari balik pintu utama rumahku “Itu pasti mama!” Jaime tiba-tiba bangun dan berlari untuk membuka pintu itu. “Argh. . . .” aku mendengar erangan Jaime dan secepatnya aku berlari ke arah pintu utama, langkah ku terhenti ketika melihat adik yang sangat kucintai terkapar lemah dengan darah tak henti mengalir dari kepalanya. Tanpa menunggu aba-aba aku berlari dan bersembunyi di kolong meja ketika melihat empat laki-laki bertopeng mulai menggeledah setiap sisi rumah ku. Aku berusaha untuk tidak menimbulkan suara, setiap waktu yang tersisa ku gunakan untuk berdoa, dan tidak sedetik pun aku berhenti memikirkan nasib Jaime. ‘Apa dia sudah mati?’ ‘Tidak mungkin’ kata hati nurani ku ‘Jaime tidak akan mati’ aku menguatkan hatiku bahwa Jaime tidak mati. “Ayo kita pergi dari sini, sebelum polisi-polisi itu datang membawa mayat tua bangka itu.” empat pasang kaki terlihat akan beranjak keluar. “Bagaimana dengan anak itu?” ujar suara yang lainnya. “Dia masih hidup, sebaiknya kau bawa dia ke mobil, dia sangat bermanfaat bagi kita” perintah suara berat yang kuyakini adalah pemimpin mereka. Aku keluar dari persembunyianku setelah suara mobil menderu meninggalkan halaman rumahku. Aku duduk bersimpuh di hadapan darah Jaime yang masih segar “Tidak. . . .” teriakku histeris. Keesokan harinya, aku dihadapi oleh kenyataan yang lebih pahit, aku harus menghadiri pemakaman kedua orang tua ku yang meninggal dalam kecelakaan mobil tadi malam. Aku tinggal sebatang kara, ayah dan ibuku telah pergi untuk selamanya, dan Jaime adikku, entahlah aku tak sanggup mengingat hal itu “Andai saja waktu itu aku yang membuka pintu, Jaime tidak akan hilang.” aku menangis dalam dekapan tante Rossa, adik perempuan ayahku. “Tenanglah, Jen! Kita pasti akanmenemukan Jaime.” hibur tante Rossa. Dan sejak saat itu aku hidup bersama tante Rossa yang menjadi waliku, tante Rossa lah yang mengelola seluruh peninggalan orang tua ku sampai hari ini dan sekarang usia ku tepat 21 tahun, sudah saatnya aku mengelola seluruh milikku dan milik Jaime. “Aku akan menemukan, Jaime” ujar ku lirih. Hujan dan petir benar-benar meninggalkan trauma mendalam dalam diriku, Hujan dan Petir jua lah yang telah mengambil semua yang ku sayangi Mama, Papa, dan Jaime.

0 komentar:

Posting Komentar